Cara Mengatasi Hama Tikus di Sawah yang Ampuh

Setiap musim panen, para petani banyak kehilangan hasil gabahnya karena serangan hama tikus. Bahkan, hama tikus ini juga dapat menyerang tanaman padi petani dari mulai persemaian sampai tahap panen. Sampai saat ini, tingkat keberhasilan petani dalam mengatasi hama tikus belum memuaskan. Populasi tikus tidak kunjung berkurang. Untuk itu, penting sekali cara yang tepat untuk mengatasi hama tikus yang sudah menguasai areal persawahan.

Pentingnya Cara Mengatasi Hama Tikus

hama tikus

Sumber : Gettyimages.com

Hama tikus atau bahasa latinnya Rattus Argentiveter , merupakan musuh utama petani.

Pada umumnya tikus menyerang padi pada malam hari, kegiatannya teratur dari mencari makan, minum dan mencari pasangan. Mereka akan menggerogoti akar dan batang hingga habis , dan kelamaan dapat menyebabkan tanaman mati. Akibatnya petani banyak mengalami kerugian.

Tikus menyukai area persawahan, ladang , dan padang rumput dan dekat dengan air karena ditempat tersebut mereka bisa mendapatkan makanan berupa bulir padi, jagung , atau rumput. Biasanya pada siang hari mereka  bersarang dan bersembunyi di lubang – lubang pada tepi kampung dekat persawahan, tanggul irigasi, jalan sawah serta pematang.

Banyaknya petani yang kurang mengamati tempat bersarang tikus sehingga penanganannya terlambat , kurang memahami sifat biologis dan ekologis tikus juga menyebabkan para petani dalam mengatasinya kurang maksimal, serta ketersediaan sarana akan pengendalian hama tikus yang terbatas.

Jika sudah memahami tentang sifat biologis dan ekologis hama tikus ,diharapkan para petani mampu menerapkan cara mengatasi hama tikus dengan tepat dan efektif dengan melihat kondisi lingkungan sekitar sehingga populasi hama tikus  bisa turun ketingkat serendah – rendahnya. Sehingga tanaman padi tidak akan rusak ataupun sampai gagal panen.

Sudah seharusnya para petani  , mengambil tindakan sedini mungkin untuk  mengatasi hama tikus yaitu fase sebelum tanam, dan dilakukan bersama sama atau berkelompok dan terkoordinasi,,, kenapa ? karena tikus dari sarang lain bisa dengan cepat berpindah tempat untuk mencari makan , dan yang terakhir adalah hamparan luas agar semua populasi hama tikus bisa musnah.

Cara mengatasi hama tikus  :

1. Sanitasi lingkungan atau lahan

Sanitasi lingkungan1

Sumber : TNI.mil.id

Sanitasi lingkungan adalah cara atau usaha untuk mengendalikan lingkungan dengan cara membersihkan tempat – tempat dimana tikus bisa bersarang dan berkembang biak . Hama tikus bisa bersarang di tanggul, saluran irigasi, semak – semak, jalan sawah, batas perkampungan atau parit.

Lingkungan sawah yang bersih membuat tikus – tikus kehilangan habitatnya dan sumber pakannya. Hal ini membuat peluang tikus untuk berkembang biak akan berkurang. Kegiatan sanitasi harus melibatkan seluruh petani agar bisa berjalan dengan maksimal dan lingkungan sawah benar benar menjadi bersih. 

2. Perburuan Massal ( Gropyokan) 

Gropyokan Massal

Sumber : Suaramerdeka.com

Gropyokan merupakan salah satu teknik mengatasi hama tikus sawah yang dilakukan dengan cara perburuan langsung atau memburu tikus secara fisik. Gropyokan bisa dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan membongkar lubang sarang tikus , pemukulan , penjeratan , pengoboran malam, perburuan dengan anjing, dll.

Salah satu caru gropyokan adalah penggenangan lahan, penggenangan bisa merendam lubang – lubang aktif tempat bersarang hama tikus , sehingga anak – anak tikus yang terdapat dalam sarang bisa mati tenggelam.

Gropyokan lebih baik dilakukan secara bersama – sama semua petani di hamparan luas sawah. Kegiatan gropyokan juga lebih efektif jika dilakukan pada masa awal sebelum tanam dan sesudah panen agar tidak mengganggu tanaman padi. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan ketika tikus – tikus berada pada sarangnya yaitu pagi hari sampai sore hari.

Jangan berhenti untuk melakukan perburuan tikus ketika lubang sarang tikus masih ada dan aktif.

3. Pengasapan/Fumigasi

Pengasapan atau Fumigasi

Sumber : Portal.sukoharjo.go.id

Pengasapan atau yang disebut dengan fumigasi yaitu teknik pengendalian atau mengatasi hama tikus dengan cara memberikan gas pestisida atau asap pada tempat dimana hama tikus tersebut bersarang dan berkembang biak. Penggunaan fumigasi ini masih aman dan tidak mengganggu pertumbuhan tanaman padi.

Alat yang dilakukan untuk fumigasi yaitu fumigator, berupa tabung yang berfungsi sebagai tempat membakar jerami kering yang dicampur dengan serbuk belerang dan dilengkapi kipas khusus untuk meniupkan asap racun kedalam lubang sarang tikus.

Tutup lubang sarang dengan tanah atau lumpur secara rapat  setelah difumigasi , hal ini bertujuan agar fumigasi berjalan dengan maksimal. Fumigasi bisa dikatakan teknik yang efektif dan tepat sasaran untuk memusnahkan tikus dan semua anak – anaknya . Lakukan fumigasi selama terdapat sarang tikus, terutama pada stadium generatif padi ( bunting hingga menjelang panen).

Fumigasi  ini juga bisa membasmi hama wereng yang menyerang tanaman padi dari asap yang dikeluarkannya. Petani cukup membutuhkan rumput dan ranting kering untuk dibakar.

3. Penanaman dan Panen secara serempak

Penanaman atau panen secara serempak

Sumber : Batenpos.co.id

Penanaman atau panen secara serempak bisa diartikan sebagai kegiatan petani untuk menanam padi secara bersama sama  sehingga panenpun juga bersama – sama. Para petani bisa saling musyawarah mengenai waktu penanaman awal.

Penanaman awal hendaknya dilakukan secara serempak pada satu hamparan luas. Jarak waktu yang dikatakan ideal paling lama satu minggu dengan petani lain. Disini para petani harus disiplin dan tertib untuk tidak saling berlomba dan mendahului dalam masa awal penanaman padi.

Mengapa harus serempak ? karena penanaman secara serempak bisa memutus rantai hidup serta makanan bagi hama tikus. Ketika ditanam secara serempak dan panenpun juga serempak , maka hama tikus akan kehabisan makanan untuk kerberlangsungan hidupnya. Karena lahan akan terbiarkan sementara waktu ( masa bera ) setelah masa panen.

Penanaman secara serempak juga efektif dalam mengatasi hama tikus karena bisa menekan perkembangbiakan populasi tikus. Selain mendapatkan hasil panen yang maksimal, petani juga lebih ringan dalam merawat tanaman padi mereka.

4. Minimalisasi ukuran pematang

Meminimalisasi ukuran pematang

Sumber : Adityagentili.blogspot.com

Ukuran pematang juga berpengaruh dalam mengatasi hama tikus. Pematang sawah hendaknya dibangun rendah dan lebar tidak lebih dari 30 cm. Pematang yang tinggi dan lebar, bisa digunakan hama tikus sebagai tempat bersarang dan berkembang biak.

Sebaliknya , pematang yang kecil dan sempit merupakan tempat yang tidak disukai hama tikus sehingga dapat membatasi ruang gerak  tikus.

5. Trap Barrier System (TBS)

trap barrier system

Sumber : doc.player.info

Salah satu cara untuk mengatasi  hama tikus biasa di sebut dengan Trap Barrier System, atau TBS. Teknik ini dapat menangkap tikus dalam jumlah banyak dan terus menerus dari awal tanam sampai panen pada pola tanam serempak , terutama di daerah endemic tikus dengan populasi tinggi.

Perangkap TBS berukuran 20 m  x 20 m dapat mengamankan tanaman padi seluas 15 ha. TBS terdiri dari tanaman padi sebagai umpan tikus, kemudian pagar plastik dan bubu perangkap sebagai alat penangkap tikus.

  1. Tanaman padi berukuran 20 m x 20 m, ditanam 2 – 3 minggu lebih awal dari padi sekelilingnya. Hal ini bertujuan untuk menarik kedatangan tikus disekitarnya.
  2. Pagar plastic atau terpal setinggi 60 cm – 70 cm mengelilingi tanaman perangkap. Pagar plastic ditegakkan dengan ajir bambu setiap 1 m, dan ujung bawahnya terendam air dalam parit.
  3. Bubu perangkap yang dibuat dari ram kawat berbentuk kotak, berukuran 40 cm x 40 cm x 20 cm. Bubu dipadang ditiap sisi pagar plastic. Berikan jembatan tikus untuk menghubungkan antara pematang parit menuju pintu bubu perangkap.

6. Musuh alami

Musuh alami hama tikus

Sumber : Pixabay.com

Para petani bisa memanfaatkan musuh alami seperti burung hantu. Burung hantu memiliki laju fisiologis yang besar sehingga mampu mengonsumsi tikus dalam jumlah banyak. Burung hantu kurang menyukai habitat ruang terbuka seperti daerah sawah irigasi, maka para petani bisa menciptakan lingkungan yang kondusif untuk melindungi predator alami tikus.

Untuk membantu burung hantu mengintai tikus di tengah hamparan sawah, petani dapat membuatkan rumah singgah burung hantu.

Setelah memahami sifat biologis ataupun ekologis tikus , diharapkan petani bisa mengambil tindakan sedini mungkin untuk mengatasi hama tikus, dan dilakukan secara bersama – sama serta langkah – langkah di atas harus dilakukan secara maksimal agar produksi tanaman padi bisa menghasilkan dengan maksimal dan petani tidak lagi merugi.

  • Add Your Comment

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.