Langkah Langkah Model Pembelajaran Discovery Learning

Saat ini, telah berkembang banyak sekali model dalam pembelajaran bagi para pengajar. Salah satunya adalah model pembelajaran discovery learning. Meski memiliki tujuan yang hampir sama, tentunya sintaks dan langkah-langkah yang digunakan model dalam pembelajaran discovery learning ini pun berbeda dari yang lain. Untuk lebih jelas mengenai discovery learning,  berikut pemaparannya.

Pengertian Model dengan Pembelajaran Discovery Learning

Nah, discovery learning atau penemuan sendiri bisa didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi jika pelajaran tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk final. Namun, lebih bertujuan untuk mengorganisasi pemahaman mengenai materi pelajaran tersebut secara sendiri.

Dalam pembelajaran ini, siswa diarahkan agar terbiasa menjadi seorang saintis (penemu). Disini mereka tidak hanya sebagai konsumen semata, akan tetapi diharapkan pula dapat berperan aktif bahkan bisa sebagai pelaku dari pencipta sebuah ilmu pengetahuan.

Beberapa ahli memberikan pendapatnya mengenai definisi pembelajaran discovery learning. Berikut ulasannya.

pengertian pembelajaran discovery learning1.Menurut Kurniasih, dkk

Discovery learning adalah proses pembelajaran yang terjadi jika pelajaran tidak disajikan dengan pelajaran alam bentuk finalnya tetapi diharapkan siswa mengorganisasikan sendiri. Discovery adalah menemukan konsep melalui serangkaian data atau informasi yang diperoleh melalui pengamatan atau percobaan.

2. Menurut Hosnan

Model pembelajaran discovery learning adalah model untuk mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan. Melalui belajar penemuan, siswa juga bisa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapi.

3. Menurut Ruseffendi

Model pembelajaran Discovery learning merupakan metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.

4. Menurut Sund

Model pembelajaran discovery learning merupakan proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Proses mental tersebut antara lain mengamati, mencerna, mengerti menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya.

5. Menurut Asmui

Model pembelajaran discovery learning adalah suatu metode untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah untuk dilupakan siswa.

Jenis dan Bentuk Pembelajaran Discovery Learning

jenis pembelajaran discovery learningSetidaknya, terdapat dua cara di dalam pembelajaran ini (menurut Suprihatiningrum), yakni meliputi:

  1. Pembelajaran penemuan bebas atau free discovery learning yang mana memiliki arti pembelajaran penemuan tanpa ada arahan maupun petunjuk.
  2. Pembelajaran penemuan terbimbing atau guided discovery learning yaitu pembelajaran yang membutuhkan peran dari guru sebagai fasilitator di dalam setiap proses pembelajarannya.

Model pembelajaran ini juga bisa dilakukan dengan komunikasi satu arah maupun dua arah tergantung dari besarnya kelas. Nah, Oemar Hamalik menjelaskannya lebih detail sebagai berikut:

  1. Sistem satu arah: merupakan pendekatan satu arah berdasar pada penyajian satu arah yang dilakukan oleh guru. Struktur penyajiannya di dalam bentuk usaha untuk merangsang siswa dalam melakukan proses discovery di depan kelas. Guru mengajukan masalah yang kemudian dipecahkan dengan langkah-langkah discovery.
  2. Sistem dua arah: merupakan sistem dua arah yang melibatkan siswa di dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Siswa kemudian melakukan discovery sedangkan para guru membimbing mereka ke arah yang benar atau tepat.

Karakteristik  Pembelajaran Discovery Learning

Beberapa ciri utama di dalam mode pembelajaran ini diantaranya:

  1. Mengeksplorasi serta memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan, serta menggeneralisasi pengetahuan
  2. Lebih berpusat pada siswa
  3. Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan yang baru serta pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.

Pendapat lain diungkapkan oleh Bell yang mana  metode ini mempunyai tujuan untuk melatih para siswa agar bisa mandiri dan kreatif. Yang antara lain sebagai berikut:

  1. Di dalam penemuan, siswa mempunyai kesempatan dapat terlibat aktif di dalam pembelajaran. Kenyataan ini menunjukkan jika partisipasi banyak siswa di dalam pembelajaran meningkat jika penemuan digunakan
  2. Melalui pembelajaran dengan penemuan, maka siswa akan belajar dalam menemukan pola di dalam situasi konkrit maupun abstrak. Siswa juga bisa meramalkan atau extrapolate informasi tambahan yang diberikan
  3. Siswa dapat belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu serta menggunakan tanya jawab untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat dalam discovery learning ini
  4. Pembelajaran dengan penemuan membantu para siswa untuk membentuk cara kerja bersama yang efektif serta saling membagi informasi dan mendengar serta menggunakan ide dari orang lain.
  5. Ada beberapa fakta yang menunjukkan bahwa keterampilan, konsep, serta prinsip yang dipelajari melalui penemuan akan lebih bermakna.
  6. Keterampilan yang dipelajari di dalam situasi pembelajaran discovery learning ini di dalam banyak kasus lebih mudah ditransfer untuk aktivitas baru serta diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru.

Sintaks Model Pembelajaran Discovery learning

sintaks model pembelajaran discovery learningAda beberapa langkah langkah dalam pembelajaran discovery learning ini, diantaranya:

  1. Menjelaskan tujuan akan pembelajaran
  2. Menganalisis dan mengidentifikasi karakteristik para siswa
  3. Menentukan materi pelajaran
  4. Membagi topik-topik pembahasan yang wajib dipelajari oleh peserta didik secara induktif ( dari contoh yang bersifat general)
  5. Membagi petunjuk praktikum atau eksperimen
  6. Peserta didik melkaukan eksperimen di bawah pengawasan guru
  7. Guru menunjukkan gejala yang diamati
  8. Peserta didik menyimpulkan hasil eksperimennya.

Sementara itu, sintaks model pembelajaran discovery learning menurut Veerman, dapat disimpulkan melalui 5 langkah, yakni:

1.Orientation

Pada langkah pertama ini, guru memberikan fenomena terkait dnegan materi yang diajarkan gara siswa bisa lebih fokus pada permasalahan yang dipelajari. Fenomena yang ditampilkan guru membuatnya mengetahui kemampuan awal dari siswa.

Pada tahap ini, siswa dilibatkan dalam membaca pengantar serta informasi latar belakang, mengidentifikasi masalah di dalam fenomena, menghubungkan fenomena dengan pengetahuan yang sudah didapatkan sebelumnya. Sintaks ini melatih kemampuan interpretasi, analisis, serta evaluasi pada aspek kemampuan berpikir kritis.

2. Hypothesis Generation

Sintaks yang kedua adalah hypothesis generation yang mana membutuhkan informasi yang telah didapatkan pada tahapan sebelumnya. Tahapan ini membuat siswa merumuskan hipotesis mengenai permasalahan. Siswa akan merumuskan masalah serta mencari tujuan dari proses belajar. Sintaks hypothesis generation akan melatikh kemampuan siswa terkait analisis, interpretasi, evaluasi, serta inferensi.

3. Hypothesis Testing

Hipotesis yang dudah dihasilkan pada tahapan sebelumnya, tidak terjamin kebenarannya. Selanjutnya, akan dilakukan pembuktian terhadap hipotesis yang dibuat oleh siswa pada tahap hypothesis testing.

Pada tahap pengujian hipotesis ini, siswa perlu merancang serta melaksanakan eksperimen untuk melakukan pembuktian hipotesis yang sudah dirumuskan, mengumpulkan data, serta mengomunikasikan hasil eksperimen. Sintaks ini akan melatih kemampuan regulasi diri, evaluasi, analisis, interpretasi, serta penjelasan.

4. Conclusion

Tahap conclusion merupakan kegiatan siswa untuk meninjau hipotesis yang sudah dirumuskan menggunakan fakta yang sudah diperoleh dari pengujian hipotesis. Siswa memutuskan fakta hasil pengujian hipotesis apakah sudah sesuai dengan hipotesis yang sudah dirumuskan maupun siswa mengidentifikasi ketidaksesuaian antara hipotesis dengan fakta yang diperoleh.

Pada tahap ini, siswa merevisi hipotesis atau mengganti hipotesis dengan hipotesis yang baru. Sintaks conclusion akan melatih kemampuan menyimpulkan, interpretasi, analisis, evaluasi, dan  juga penjelasan.

5. Regulation

Tahap regulation berkaitan dengan proses monitoring, perencanaan, serta evaluasi. Perencanaan ini melibatkan proses menentukan tujuan serta cara untuk mencapai tujuan. Monitoring adalah proses untuk mengetahui kebenaran langkah-langkah serta tindakan yang diambil oleh sistwa mengenai waktu pelaksanaan serta hasil berdasarkan perencanaan yang sudah dibuat sebelumnya.

Selanjutnya, guru mengonfirmasi kesimpulan serta mengklarifikasi hasil yang tidak sesuai untuk menemukan konsep sebagai produk dari proses pembelajaran. Pada sintaks regulation, siswa akan dilatih kemampuannya dalam hal regulasi diri, evaluasi, analisis, interpretasi, penjelasan, serta menyimpulkan.

Kelebihan Pembelajaran Discovery Learning

kelebihan discovery learningBerdasarkan Suherman dkk (2001 : 179) menyatakan beberapa keunggulan dari metode ini, yaitu :

  1. Siswa selalu aktif dalam kegiatan pembelajaran, karena disini ia akan terus berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir.
  2. Siswa mudah dalam menguasai materi pelajaran. Hal ini dikarenakan siswa berpartisipasi dan mengalami sendiri dalam proses menemukannya. Sesuatu hal yang diperoleh dengan mandiri lebih cepat dan kuat diingat.
  3. Menemukan sendiri tentunya akan menciptakan rasa puas. Kepuasan batin ini secara tidak langsung akan mendorongnya untuk melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat.
  4. Siswa yang medapatkan wawasan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentranfer pengetahuannya ke berbagai konteks.
  5. Pembelajaran ini membiasakan siswa untuk lebih banyak belajar sendiri
  6. Dapat mengembangkan bakat dan ketrampilan setiap siswa

Kekurangan Pembelajaran Discovery Learning

Sementara Kurniasih dkk (2014 : 64) memaparkan beberapa kelemahan pembelajaran discovery learning :

  1. Metode ini diyakini bahwa siswa harus siap secara pikiran sebelum belajar. Bagi beberapa siswa yang kurang pandai, pasti akan mengalami kesulitan dalam berpikir dan mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep yang tertulis maupun lisan. Sehingga pada gilirannya bisa membuat rasa putus asa.
  2. Pembelajaran ini tidak efektif untuk mengajar siswa dengan jumlah yang banyak. Pembelajaran ini memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk membantu siswa dalam menemukan teori untuk pemecahan masalah.
  3. Pembelajaran ini juga dianggap lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman siswa, sementara untuk pengembangan konsep, ketrampilan dan emosi secara keseluruhan kurang adanya perhatian

Demikian penjelasan singkat mengenai model dan sintaks pembelajaran discovery learning. Pada model ini, siswa akan lebih mudah untuk menerima pelajaran yang sudah pengajar berikan. Semoga bermanfaat!

  • Add Your Comment

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.