Penjelasan Dasar Hukum, Hukum Nikah hingga Nikah Beda Agama

Hukum nikah Dalam Islam– Menikah adalah sesuatu yang sakral dan merupakan sebuah Ibadah yang tentu tidak boleh dilaksanakan secara sembarangan. Penting sekali bagi kita sebagai umat Islam untuk mengetahui bagaimana dasar serta hukum-hukum pernikahan dalam Islam. Selain itu, yang tidak kalah penting juga adalah apa saja pernikahan yang dilarang dalam Islam dan bagaimana hukum nikah beda agama itu sendiri ?

Dasar Hukum Nikah

dasar hukum nikah

bersamadakwah.net

Didalam agama Islam, selain sebagai ibadah nikah juga merupakan sunah Allah dan sunnah Rasul-Nya. Sebagai sunnah Allah SWT, sebuah pernikahan merupakan qodrat dan irodat Allah dalam menciptakan alam semesta.

Adapun anjuran atau dasar hukum nikah yaitu :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”(Q.S. ar-Ruum 21)

Allah juga berfirman dalam surat Yasin ayat 36 yang artinya sebagai berikut :

“Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluknya berpasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang dikeluarkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”

Hukum – Hukum Nikah

Para Ulama sepakat dalam menentukan hukum-hukum pernikahan dalam Islam, yakni wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Untuk lebih lengkapnya simak penjelasan berikut ini :

Wajib

hukum nikah wajib

muslim.or.id

Hukum nikah yang pertama wajib bagi orang yang memiliki kemampuan secara finansial dan siap untuk membangun rumah tangga serta tidak dapat menahan dirinya dari hal yang dapat menjerumuskan ke perbuatan zina.

Orang ini wajib hukumnya untuk segera melangsungkan pernikahan agar tidak melakukan perbuatan zina maupun maksiat yang sangat dilarang dalam Islam.

Imam Al-Qurtubi menyatakan bahwa para ulama telah sepakat  mengenai wajibnya seseorang untuk menikah, jika dia telah mampu dan takut akan resiko zina. Dan bila dia kurang mampu, maka Allah SWT pasti akan mecukupkannya mengenai rezeki, sebagaimana firman-Nya :

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui.”(QS. An-Nur: 32).

Sunnah

hukum nikah sunnahBerdasarkan pendapat para Ulama, hukum nikah adalah sunnah jika seseorang tersebut telah memiliki kemampuan secara finansial maupun sudah siap membangun rumah tangga namun dia sanggup menahan dirinya dari sesuatu hal yang menjerumuskan dalam perbuatan zina.

Orang dengan kondisi tersebut hanya  disunnahkan untuk menikah. Hal ini dikarenakan ada beberapa faktor yang dapat menghindari dia dari perbuatan zina jika ia tidak menikah.

Walaupun begitu, Islam selalu menganjurkan semua umatnya untuk segera menikah jika telah memiliki kemampuan dan kesiapan sebagai salah satu bentuk ibadah. Bahkan Ibnu Abbas ra pernah berpendapat mengenai orang yang tidak mau menikah adalah orang tidak sempurna ibadahnya.

Sebagaimana hadits Nabi riwayat Al-Bukhari nomor 4779 berikut ini:

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج، فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم، فإنه له وجاءٌ

Artinya, “Wahai para pemuda, jika kalian telah mampu, maka menikahlah. Sungguh menikah itu lebih menenteramkan mata dan kelamin. Bagi yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa bisa menjadi tameng baginya.”

Dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Nikahilah wanita yang banyak anak, karena Aku berlomba dengan nabi lain pada hari kiamat.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbam).

Haram

hukum nikah HARAMSecara umum ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang menjadi haram untuk menikah, yakni :

  1. Dia tidak mampu memberikan nafkah

Orang yang tidak memiliki kemampuan finansial atau tanggung jawab untuk membangun sebuah rumah tangga jika menikah dikhawatirkan akan menelantarkan istri maupun anaknya.

  1. Dia tidak mampu melakukan hubungan seksual

Orang yang memiliki cacat fisik atau tidak bisa melakukan hubungan seksual haram melakukan pernikahan. Namun hal ini halal jika ia berterus terang sebelum menikah dengan calon pasangan agar mengetahui dan menerima keadannya.

  1. Pernikahan beda agama

Hukum nikah dengan beda agama ialah haram. Misalnya pria muslim menikah dengan wanita Thionghoa ataupun sebaliknya wanita muslim menikah dengan pria Nonmuslim.

  1. Pernikahan yang tidak memenuhi syarat nikah dan rukun nikah

Pernikahan tidak sah jika pernikahan tidak memenuhi syarata dan rukun nikah. Misalnya adalah menikah tanpa adanya wali atau saksi.

  1. Pernikahan sedarah

Pernikahan juga diharamkan dalam Islam apabila menikah dengan mahram atau wanita yang haram untuk dinikahi, wanita istri orang lain, wanita berada dalam masa idah, pezina (pelacur)  maupun pernikahan sedarah.

  1. Pernikahan dengan maksud buruk

Haram hukumnya jika menikah dengan tujuan mendzalimi atau menyakiti hati seseorang agar ia tidak menikah dengan orang lain namun dikemudian hari menelantarkan pasangannya.

Atau juga menikah dengan memiliki niat untuk menalak, sehingga nikah hanya untuk sementara waktu, yang biasa dikenal dengan nikah kontrak.

Makruh

hukum nikah makruhHukum nikah makruh jika seseorang tidak mampu secara penghasilan bahkan tidak ada penghasilan sama sekali dan tidak sempurna kemampuan untuk berhubungan seksual. Jika dipaksakan menikah, dikhawatirkan bahwa hak dan kewajiban dalam pernikahan tidak dapat terlaksanakan.

Namun bila calon istri rela dan menerima keadaaanya calon suami serta memiliki harta yang dapat mencukupi kehidupan mereka, maka masih dibolehkan bagi mereka untuk menikah dengan karahiyah.

Sebaiknya bukan seorang istrilah yang menanggung beban dan nafkah keluarga, melainkan menjadi tanggung jawab seorang suami. Pernikahan ini makruh hukumnya sebab berdampah dharar bagi pihak wanita, ditambah lagi jika kondisi tersebut berpengaruh kepada ketaatan dan ketundukan istri kepada suami.

Mubah

hukum nikah mubahSebuah pernikahan juga bisa mubah hukumnya atau boleh dilaksanakan. Hal ini bagi seseorang yang berada pada posisi ditengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk segera menikah dengan hal-hal yang mengharamkannya untuk menikah.

Pernikahan ini bersifat mubah jika orang tersebut menikah hanya berniat untuk memenuhi syahwatnya saja, tidak untuk membina rumah tangga sesuai syariat Islam namun juga tidak dikhawatirkan akan menelantarkan istrinya.

Tidak dianjurkan untuk menikah akan tetapi juga tidak ada larangan.

Pernikahan yang Dilarang dalam Islam

pernikahan yang dilarang Islam

  1. Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah merupakan nikah yang dilaksanakan oleh seseorang dengan tujuan hanya untuk menuruti hawa nafsu dan bersenang-senang untuk sementara waktu saja.

Nikah mut’ah ini pernah diizinkan oleh Nabi Muhammad SAW, namun pada perkembangannya, Nabi Muhammad SAW telah melarangnya untuk selama-lamanya.

  1. Nikah Syighar

nikah syighar merupakan sebuah pernikahan yang terjadi dibawah suatu perjanjian antara wali nikah perempuan dengan calon mempelai pria.

Calon mempelai perempuan akan dinikahkan walinya dengan calon mempelai pria tanpa adanya mahar, dengan perjanjian bahwa calon mempelai laki-laki itu juga akan menikahkan wali dari pihak perempuan tersebut dengan seorang wanita yang berada di bawah perwaliannya.

Rasullullah secara tegas melarang semua jenis pernikahan seperti ini.

  1. Nikah Tahlil

Nikahnya tahlil adalah sebuah pernikahan yang dilaksanakan dari kerjasama atau perjanjian negatif antara muhalil (suami pertama) dan muhallal (suami kedua).

Nikah jenis ini yaitu nikahnya seorang laki-laki yang berniat untuk memberikan thalaq kepada istrinya yang sudah ia jima dengan tujuan agar bisa dinikahi lagi oleh suami pertamanya yang pernah menjatuhkan thalaq tiga (thalaq bain).

  1. Nikah Beda Agama

Hukum nikah beda agama adalah haram sebagaimana Allah Swt berfirman yang Artinya:

“Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran. (QS. AL-Baqarah : 221)

Hukum Nikah Beda Agama Menurut MUI

pernikahan beda agama

pixabay.com

Perkara mengenai Hukum pernikahan beda agama sebenarnya telah dibahas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak lama. Tepatnya pada Musyarawah Nasional (Munas) II tanggal 11-17 Rajab 1400 H atau 26 Mei -1 Juni 1980.

MUI mengeluarkan fatwa bahwa pernikahan beda agama tidaklah sah alias tidak diperbolehkan. Pendapat tersebut didasari oleh:

  • Surat Al-baqarah ayat 221
  • Surat Al-Mumtahanah ayat 10
  • Surat At-Tahrim ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperlihatkan- Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

  • Hadist Riwayat Tabrani:

“Barangsiapa telah kawin, ia telah memelihara setengah bagian dari imannya, karena itu, hendaklah ia takwa kepada Allah dalam bahagian yang lain.

  • Sabda Nabi Muhammad ShallaAllahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Aswad bin Sura’i:

“Tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan suci sehingga ia menyatakan oleh lidahnya sendiri. Maka, ibu bapaknyalah yang menjadikannya (beragama) Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

  • Hadist Riwayat Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud Ibn Majah:

“Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.”

  • Qa’idah Fiqh: Mencegah kemafsadatan lebih didahulukan (diutamakan) dari pada menarik kemaslahatan.

Bila anda orang jawa, Bagaimana ya kira-kira hukum dan hitungan weton jawa ? Ketahui juga cara MC pernikahan yang baik.

Semoga ulasan mengenai hukum-hukum pernikahan serta bagaimana hukum pernikahan beda agama di atas dapat menjawab ketidaktahuan anda semua.

Tags:
  • Add Your Comment

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.