Sejarah : Legenda Jaka Tarub dan 7 Bidadari

Legenda Jaka Tarub dan 7 Bidadari merupakan salah satu legenda yang paling familiar di Indonesia. Bahkan sampai tertulis di dalam Babad Tanah Jawi. Kisah Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan inilah yang diyakini masyarakat kita sebagai awal mula keturunan Raja-raja Mataram.

Legenda Jaka Tarub memiliki banyak versi dan pengubahan, tetapi secara garis besar masih memiliki alur cerita yang sama. Jaka tarub adalah seorang pemuda yang tinggal di desa Tarub, sedangkan Nawangwulan adalah seorang bidadari yang tidak bisa kembali ke kahyangan karena selendangnya disembunyikan oleh Jaka Tarub.

Konon katanya kisah Jaka Tarub terjadi di desa widodaren, kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi. Karena di desa tersebut terdapat petilasan makam Jaka Tarub.

Simak kisah panjang jaka tarub dan hubungannya dengan Raja-raja mataram di bawah berikut ini.

Legenda Jaka Tarub dan 7 Bidadari

legenda jaka tarub

Sumber : tokopedia.com

Asal Usul Jaka Tarub

Dahulu kala di sebuah desa bernama Tarub,hiduplah seorang janda bernama  Mbok Randa Tarub. Setelah suaminya meninggal dunia, ia mengangkat seorang anak laki-laki sebagai anaknya. Pada saat dewasa, anak tersebut dipanggil Jaka Tarub.

Jaka Tarub merupakan anak yang baik. Setiap hari, Jaka Tarub membantu Mbok Randa mengerjakan sawah di ladangnya. Dari hasil sawah lading itulah mereka menggantungkan hidup. Mbok Randha sangat menyayangi Jaka Tarub layaknya anaknya sendiri.

Jaka tarub beranjak menjadi seorang pemuda yang memilik wajah tampan, tingkah laku yang sopan santun. Ia sering berburu binatang di hutan menggunakan sumpit kesayangannya. Ketampanan dan ketangkasannya membuat para gadis di desa menyukainya. Namun Jaka Tarub ingin untuk berumah tangga.

Pemuda tersebut ingin berbakti pada Mbok Randha yang dianggapnya sebagai Ibunya sendiri. Ia bekerja semakin rajin dan gigih, sehingga hasil sawah ladangnya melimpah. Mbok Randha yang pemurah, selalu membaginya dengan tetangganya yang kekurangan.

Suatu hari Mbok Randha menginginkan Jaka Tarub untuk menikah. “Jaka Tarub, anakku. Kamu sekarang sudah dewasa, sudah pantas untuk meminang seorang gadis. Simbok ingin menimang cucu.”

“Mbok, saat ini Jaka masih belum menginginkan pedamping hidup. Akan ada waktunya nanti Jaka memiliki rumah tangga.” Jawab Jaka Tarub.

“ Baiklah, jika itu sudah kehendakmu Jaka. Mbok hanya menginginkan yang terbaik untuk engkau. Jika Simbok tiada kelak, siapa yang akan mengurusmu Jaka ?” Mbok Randha menanyakan lagi.

“Mbok, mbok akan baik-baik saja. Nanti mbok pasti  akan menggendong dan menimang cucu yang sangat lucu.” Jaka Tarub berusaha untuk meyakinkan.

Suatu hari, mbok Randa sedang sakit dan badannya lemas, rupanya umur mbok Randha hanya sampai hari itu. Menjelang siang, mbok Randha menghembuskan nafasnya yang terakhir kalinya. Sedangkan Jaka tarub belum juga menikah.

Sejak sepeninggal Mbok Randha, Jaka Tarub merasa sangat sedih dan menjadi seorang yang pemalas. Ia sering melamun sendirian karena semangat hidupnya telah hilang.

Jaka Tarub dan 7 Bidadari

kisah jaka tarub

Sumber : silviaputridwitasari.wordpress.com

Pada suatu malam, Jaka Tarub bermimpi memakan daging rusa yang amat lezat dan enak. Ketika dia telah bangun, ia merasa lapar dan ingin memakan daging rusa. Maka pagi itu, Jaka Tarub bergegas  ke hutan untuk berburu rusa.  Dengan sumpit kesayangan ia berjalan menyurusuri hutan.

Setelah sekian lama memutari kawasan hutan, Jaka Tarub tidak juga menemukan seekor rusa, bahkan kancil pun tak ada. Padahal Jaka Tarub telah memasuki kawasan hutan yang belum pernah ia datangi sebelumnya.

Karena merasa kelelahan, Jaka Tarub duduk di sebuah batu besar untuk bersitirahat. Dengan tidak sadar ia pun ketiduran.

Ditengah terlelapnya tidur, Jaka Tarub mendengar sayup-sayup derai tawa suara perempuan yang bersuka ria. Lantas ia tergagap bangun, dan mencari dari mana sumber suara tersebut.

“ Suara-suara tawa perempuan, siapakah itu?” gumam Jaka Tarub.

Setelah mencari sumber suara tersebut, Jaka Tarub sadar bahwa suara tersebut berasal dari sebuah telaga. Ia pun mengendap-endap di belakang batu besar di pinggir telaga. Di balik batu besar tersebut dia melihat ada sosok tujuh perempuan cantik yang tengah bermain-main air dan bercanda.

Jaka Tarub menganga akan kecantikan mereka. “Siapa mereka? Mengapa mereka bisa berada di tengah hutan yang lebat?” gumam Jaka dalam hati.

Tidak jauh dari telaga, tergelatak selendang mereka di atas bebatuan. Jaka kemudian mengambil salah satu selendang dan menyembunyikannya.

Memasuki sore hari, ketujuh perempuan cantik tersebut memutuskan untuk meninggalkan telaga. Mereka segera berpakaian, mengenakan selendang mereka masing-masing dan terbang ke kahyangan.

Jaka Tarub akhirnya mengetahui bahwa mereka adalah bidadari kahyangan. Salah satu bidadari cantik tersebut merasa kehilangan selendangnya. “ kakak, dimana selendangku ?” tanyanya dengan panik.

Keenam bidadari turut mencari-cari selendang yang telah hilang, namun hingga senja tak ditemukan juga. “Nimas Nawang Wulan, kami tidak bisa menunggumu lama-lama. Mungkin sudah takdirmu untuk tinggal di Mayapada!” kata bidadari tertua.

Jaka Tarub Menikah dengan Dewi Nawang Wulan

legenda jaka tarub

Sumber : megaapril429.blogspot.com

Sepeninggal kakaknya, Nawangwulan menangis sendirian meratapi nasip. Ia merasa takut dan tidak mampu untuk hidup di dunia manusia. Saat itulah, Jaka Tarub mendekatinya dan menawarkan bantuan.

“Ada apakah gerangan adinda menangis sendirian di pinggir telaga yang letaknya di tengah hutan ini ? saya Jaka Tarub, saya tinggal di desa di dekat sini. Apa yang bisa saya bantu?” Jaka berpura-pura menawarkan bantuan.

“Saya kehilangan selendang saya, sehingga saya tidak bisa kembali ke kahyangan.” Jawab Nawang Wulan.

Diajaknya Nawang Wulan pulang dan tinggal di rumahnya. Akhirnya Dewi Nawangwulan tinggal di rumah Jaka Tarub, kini hidup Jaka kembali cerah. Tak lama kemudian, mereka menikah dan hidup berbahagia. Rumah tangga mereka dikaruniai seorang bayi perempuan yang bernama Nawangsih.

Ditengah kebahagiaan hidupnya, Jaka Tarub sudah lama merasa heran karena lumbung padi miliknya tidak pernah berkurang, malah justru bertambah. Setiap hari istrinya memasak dengan mengambil beras dari lumbung padinya, namun tidak sedikitpun lumbung padinya berkurang.

Dewi Nawang Wulan Kehilangan Kesaktian

kisah jaka tarub

Sumber : tembi.net

Hingga suatu hari, Nawang Wulan sedang menanak nasi tapi ada keperluan di sungai. Nawangwulan kemudian berpesan pada suaminya untuk menjaga api dan jangan pernah membuka tutup kukusan nasi. “Kakanda, aku sedang menanak nasi tapi aku hendak pergi ke sungai. Tolong jagakan api jangan sampai mati, dan kakanda jangan pernah membuka penutup kukusan!” Pesan Nawang Wulan

“Baiklah, Kakanda akan menjaganya.” Jawab Jaka Tarub. Setelah Nawang Wulan pergi ke sungai, Jaka merasa penasaran dengan larangan istrinya untuk tidak membuka penutup kukusan. Lantas ia pun membuka penutup kukusan tersebut, Jaka merasa sangat kaget ketika mendapati di dalam kukusan hanya ada setangkai padi.

“Pantas lumbung padiku tidak pernah berkurang.” Gumam Jaka dalam hati.

Jaka tarub

Sumber : static.digitale-app.com

Ketika Nawang Wulan kembali dari sungai, ia membuka tutup kukusan. Setangkai padi masih tergolek di dalamnya, tahulah ia bahwa suaminya telah melanggar larangannya.

Nawang Wulan memiliki kesaktian yaitu dapat menanak nasi setangkai padi menjadi sebakul nasi. Namun kesaktian Nawang Wulan yang dirahasiakan telah musnah. Sejak saat itu, Nawang Wulan harus menumbuk dan menampi padi untuk dimasak, seperti manusia pada umumnya. Seiring berjalannya waktu, tumbukan padi terus berkurang.

Suatu saat Nawang Wulan hendak mengambil  padi di lumbung. Lumbung padi tinggal sedikit, ketika ia mengambil sisa-sisa padi, nampaklah selendang  yang telah lama hilang. Nawang Wulan akhirnya sadar dan mengetahui kenyataan bahwa ternyata suaminya lah yang selama ini menyembunyikan selendangnya.

Dewi Nawang Wulan Kembali ke Kahyangan

cerita jaka tarub

Sumber : 1.bp.blogspot.com

Ia langsung mengenakan selendang  tersebut kemudian bergegas menemui suaminya.

“Kakanda, engkau telah melanggar pesanku untuk tidak membuka penutup kukusan, kesaktianku telah hilang karenamu. Lumbung padi kita habis, dan aku telah menemukan selendangku yang selama ini engkau sembunyikan. Aku akan pergi ke kahyangan .” Kata Nawang Wulan

“Aku minta maaf istriku. Aku mengakui semua kesalahanku. Janganlah engkau pergi meninggalkanku !”. pinta Jaka Tarub

“Maaf kakang, aku harus kembali ke kahyangan. Tolong jaga baik-baik putri kita Nawangsih. Buatkan dangau di sekitar rumah. Letakkan Nawangsih setiap malam di dangau tersebut, aku akan datang setiap malam untuk menyusui Nawangsih. Namun kakang jangan pernah mendekat.” Pesan Nawang Wulan.

kisah jaka tarub

Sumber : ikkahua.com

Seketika itu Nawang Wulan terbang menuju kahyangan dengans selendangnya.

Jaka Tarub menuruti semua permintaan istrinya, ia segera membuat dangau di dekat rumah. Setiap malam ia melihat anaknya bermain dengan ibunya. Setelah Nawangsih tertidur, Nawng Wulan kembali  terbang ke Kahyangan. Demikian hal itu terjadi berulang-ulang  dan seterusnya hingga Nawangsih besar.

Jaka Tarub

Sumber : websta.com

Kehidupan Jaka Tarub dan Nawangsih tidak pernah mengalami kesulitan, karena bantuan akan selalu datang tiba-tiba. Konon itu adalah bantuan dari Nawang Wulan.

Jaka Tarub Leluhur Kesultanan Mataram

Sejak saat itu, Jaka tarub menjadi pemuka desa dan bergelar Ki Ageng Tarub. Ia bersahabat baik dengan Brawijaya, Raja Majapahit. Pada suatu hari Brawijaya mengirimkan keris pusaka miliknya Kyai Mahesa Nular untuk dirawatnya.

Hadiah keris tersebut dibawa langsung oleh dua orang utusan yang bernama Ki Buyut Mahasan dan anak angkat Brawijaya , Bondan Kejawen.

Ki Ageng Tarub rupanya mengetahui bahwa Bondan Kejawen merupakan anak kandung Brawijaya. Oleh karenanya Ki Ageng Tarub meminta agar Bondan Kejawen untuk tinggal bersamanya di Desa Tarub.

Akhirnya Bondan Kejawen tinggal bersama Ki Ageng Tarub dan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub. Namanya berganti menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih beranjak dewasa, keduanya pun dinikahkan.

Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng menggantikan posisi Ki Ageng tarub. Lembu Peteng dan Nawangsih memiliki seorang putra yang bernama Ki Ageng Getas Pandawa. Ki Ageng Getas Pandawa kelak akan memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela.

Sejarah mencatat, Ki Ageng Sela merupakan kakek buyut dari Panembahan Senopati yang telah menurunkan Trah Mataram Islam yang memiliki pengaruh dan hegemoni kuat di tanah jawa sejak abad 17 silam.

Semoga cerita turun temurun di atas dapat menambah wawasan anda semua. Simak juga dongeng yang tidak kalah seru malin kundang.

Tags:
  • Add Your Comment

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.