Mengambil Keputusan Sulit dalam Hidup

Pada tulisan kali ini saya akan berbagi sedikit kisah tentang perjalanan hidup saya berkaitan dengan mengambil suatu keputusan yang sulit dalam hidup.

Terkadang hidup menghadirkan pilihan dimana kita harus memilih keputusan yang cukup sulit. Untuk mengambil sebuah pilihan, banyak pertimbangan yang harus kita pikirkan.

Kemampuan diri sendiri, kondisi keuangan, keluarga, sahabat dan orang sekitar, usia , waktu, tujuan, serta manfaat yang dapat diraih.

Perkenalkan nama saya Dony. Saya pemuda yang lahir dan besar di Kediri, Jawa Timur. Bekerja  dengan teman – teman yang sudah seperti keluarga sendiri,  nongkrong  dengan sahabat dan berjualan di sebuah pasar tradisional menjadi rutinitas sehari – sehari.

Saya mengambil langkah dengan sebuah hal baru. Meninggalkan zona nyaman yang selama ini bertahun – tahun saya lakukan. Di umur yang cukup matang saya harus tinggal di sebuah tempat baru dimana tidak ada yang mengenal dan semua kegiatan baru.

Saya pribadi merupakan orang yang minder, tidak percaya diri dan selalu merasa lebih rendah dari orang baru kenal.

Pergi untuk mondok ke sebuah pondok pesantren merupakan keputusan tidak mudah yang telah saya buat. Bagaimana tidak, kehidupan saya jauh dari aturan.  Latar belakang saya pun bisa dibilang kurang agamis. Al Quran baru saya pelajari dua tahun belakangan. Dan pondok sesuatu yang belum aku kenal.

Latar Belakang Hidup

anak kecil sendiri

by unsplash

Dibesarkan di keluarga yang kurang agamis membuat saya gagap agama. Ngaji bukan sesuatu yang penting. Selama menerapkan sholat seperti yang diajarkan di sekolah sudah lebih dari cukup.

Masa sekolah saya lewati dengan lancar. Alhamdulillah , sekolah tujuan selalu dapat aku peroleh. Berbagai pahitnya hidup mengajarkan saya harus berjuang agar meraih masa depan yang lebih baik.

Sekilas Masa Sekolah dan Kerja

berjalan kaki

by pexel

Ketika menjalani masa sekolah , saya belajar mengais rezeki di sebuah pasar tradisional yang tidak jauh dari rumah. Berawal dari membantu Ibu, dan saat masa memasuki SMK saya melayani konsumen dengan sendiri.

Setelah tamat SMK, saya iseng mengirim surat lamaran pekerjaan ke perusahaan swasta yang paling besar di Kota Kediri. Sekitar beberapa hari, Pak Pos mengantarkan sebuah surat yang ditujukan ke rumah saya.

Tertulis nama saya serta tanggal dan tempat dimana saya harus menjalani sejumlah test. Test demi test saya lewati yang menghabiskan  1,5 bulan lamanya. Suatu hari handphone jadul berdering, setelah kuangkat bibir ini tersenyum lebar.

Awal desember 2011 saya menjadi seorang karyawan untuk yang pertama kalinya. Disini saya belajar banyak hal,   mulai dari etika bekerja,  kediplinan, tanggung jawab sampai menghadapi berbagai macam karakter pekerja.

Umur yang masih menginjak 19 tahun membuat saya berpikir untuk melanjutkan pendidikan. Alhamdulillah dengan penghasilan pribadi,saya sanggup membiayai semua biaya kuliah beserta media penunjang.

Pagi harus berdagang di pasar,  satu jam kemudian berangkat kerja, dan sehabis maghrib harus siap di kelas . Begitulah rutinitas saya kala itu.

Ujian di Tempat Kerja

dimusuhi teman

by teknikhidup.com

Selang 2 tahun , kondisi lingkungan kerja semakin tidak baik. Berbagai macam persoalan datang. Satu per satu karyawan harus diberhentikan karena banyak hal , entah dari kedisiplinan, etika yang buruk serta kerja yang kurang maksimal.

Banyak antar karyawan yang tidak saling percaya satu sama lain. Bahkan tidak sedikit yang berprasangka buruk bahwa saya sebagai salah satu pelapor atau dalang dibalik berhentinya beberapa karyawan. Disini saya belajar untuk menjadi pribadi yang lebih sabar.

Seiring berjalannya waktu, tidak ada perubahan yang terjadi. Setiap berganti bulan selalu ada yang diberhentikan. Beberapa menganggap saya berbahaya, dan tidak pantas untuk dijadikan teman baik. Entah dari mana penilaian seperti itu.

Saya harus memiliki hubungan yang tidak baik pada sebagian besar  karyawan .

Suatu hari orang – orang  terdekat yang harus diberhentikan dari perusahaan ini. Hati yang  semakin berkecamuk dan suasana kerja semakin berantakan.Saya harus berjuang untuk tetap bekerja di sini, masa kuliah yang belum selesei menjadikan saya berusaha sekuat tenaga.

1,5 tahun berlalu, hampir dari 50 % karyawan yang bekerja di bagian dimana saya bekerja telah keluar. Saya masih bertahan hanya mengandalkan kesabaran dan doa. Kini situasi menjadi lebih tenang.

Rumah Kedua di Tempat Kerja

rukun dan bersama

by pexels

Seiring berjalannya waktu , suasana ditempat saya bekerja menjadi stabil kembali. Adapun kerikil masalah tapi masih kecil dan bisa diatasi.

Rasa nyaman saya mulai hadir di sini. Rekan – rekan kerja yang dulu memusuhi dan mempunyai hubungan buruk dengan saya sekarang menjadi teman dekat. Bahkan sudah seperti saudara , kami sering nongkrong bareng, menjadi tempat curhat, saling mengeluh tentang masalah pribadi.

Memang benar peribahasa  “Tak kenal maka tak sayang “.

pertemanan

by pexel

Saya justru banyak mendapatkan sahabat dekat dari sebuah hubungan yang awalnya buruk. Entah sahabat waktu sekolah ataupun kerja.

Tempat kerja sudah menjadi rumah kedua . Pekerjaan yang berat tidak terasa berat. Makan , tertawa, bercanda kami lakukan untuk menghibur  diri dikala penat.

Mengenal Sintesa

pesantren sintesaSintesa merupakan sebuah pondok pesantren yang fokus untuk Al Quran dan Internet Marketing. Pondok yang terletak di Magetan ini memiliki program untuk membangun akhlak anak – anak muda menjadi lebih baik dan dapat membuka usaha sendiri.

Saya mengenal Pondok Sintesa dari sahabat semasa sekolah SMK  yang merupakan alumni santri dari pondok tersebut. Ketika sahabat menginformasikan bahwa dia akan pergi mondok, saya tidak memberikan respon yang begitu baik. Dia hanya memberikan pesan dia tidak bisa pulang selama mondok.

Sejenak kehilangan satu sahabat, tapi masih banyak sahabat dimana tempat saya bisa berkeluh kesah dan menghabiskan waktu bersenang – senang.

Tidak terasa sahabat saya semasa SMK telah kembali pulang dari Pondok Sintesa. Hubungan silahturahmi kami tetap baik. Seminggu sekali kami habiskan waktu bersama untuk sekedar jogging bareng atau nongkrong bareng.

Saya melihat perubahan pada dirinya, baik dari segi perilaku , akhlak dan terutama ekonomi. Hati saya terkejut ketika dia bercerita panjang lebar tentang Sintsesa dan pundi – pundi pendapatannya. Banyaknya rezeki tidak serta merta membuat dia bergaya mewah.

Tidak jarang dia menasehati saya akan cara bijak dalam menggunakan uang dan akhlak yang lebih baik. Pengetahuan saya akan Sintesa kala itu tidak menimbulkan ketertarikan saya terhadap pondok tersebut.

Mendaftar di Pondok Sintesa

berubah baik

by pixabay

Satu  tahun saya jalani seperti biasanya. Tidak ada perubahan yang signifikan pada hidup saya.

Ada saatnya hati kecil mulai mempertanyakan apa Hakikat hidup sebenarnya ? Apa yang saya inginkan dalam hidup ini ? Dan apa tujuan saya ?

Saya mulai mempelajari Al Quran, mengenal tiap – tiap huruf dan belajar membaca yang benar.

Saya mendekatkan diri dengan-Nya. Yang menciptakan segala sesuatu di bumi dan di langit. Dimana tempat seluruh makhluk  bersujud , memohon dan berdoa. Allah SWT.

Beberapa doa terucap dari mulut ini. Tapi tak satupun terjadi.

Terkadang saya menyalahkan Sang Pencipta atas semua ketetapan-Nya. Masa lalu yang buruk ( panjang, rumit, dan privasi ya ), intinya buaanyak hal yang terjadi dimasa lampau yang telah membentuk karakter pribadi saya, cara hidup bahkan dapat merusak apa yang seharusnya terjadi.

Keadilan Allah adalah sesuatu yang mutlak .

Para sahabatlah yang selalu menjadi ruang tujuan semua keluh kesah. Beruntungnya saya punya sahabat yang selalu mau mendengar keluhan – keluhan saya, karena saya orang banyak ngeluh. Mereka juga tidak lelah menegur , mengarahkan dan memberikan solusi.

Berdamai dengan diri adalah jalan keluar.Rasa ingin dekat dengan Sang Pencipta,  Allah SWT semakin besar, mungkin karena saya sadar bahwa hidup saya tidak akan berjalan dengan semestinya tanpa petunjuk-Nya.

Suatu saat sahabat saya yang juga alumni santri Sintesa membagikan sebuah link pendaftaran Pondok Sintesa. Selintas saya  mengacuhkan pada waktu itu. Entah mengapa keesokan harinya saya bertanya panjang lebar tentang Pondok Sintesa.

Dengan kurang yakin , saya mendaftar dan memenuhi semua prosedur atau persayaratan yang ditentukan oleh Pondok. Itupun semua dengan arahan sahabat saya.

Resign Kerja

Pengumuman telah keluar, nama saya tercantum diantara 30 calon santri lainnya dari berbagai pelosok negeri ini.

Senang dan bingung menjadi satu. Saya harus melepaskan pekerjaan dimana saya berjuang dengan keras untuk mempertahankannya.

Apa saya bener – bener harus pergi ke pondok yang belum tentu menghasilkan materi. Ketakutan terasa nyata memenuhi otak dan pikiran.

Satu hal yang pasti, saya ingin memperbaiki diri, saya ingin menjadi lebih baik. Berdoa adalah jalan terakhir.

orang menyendiri

by pixabay

Saya hendak pergi dengan tujuan yang pasti. Keyakinan pun semakin bangkit. Keyakinan bahwa saya sedang memenuhi panggilan jiwa.

Saya yakin suatu saat nanti pasti akan ada hadiah yang lebih besar. Hadiah yang sudah dipersiapkan, yang lebih pantas dan yang pasti lebih saya butuhkan.

Hati tidak perlu lagi risau dengan rezeki, karna rezeki merupakan sesuatu yang pasti. Allah telah mencatat takdir setiap makhluk jauh sebelum makhluk itu ada.

Saya pun memutuskan untuk resign kerja. Melakukan yang terbaik sebagai seorang muslim dan menyerahkan sepenuhnya apapun hasilnya kelak.

Beragam reaksi muncul dari sahabat kerja , rekan kerja, dan atasan. Sahabat saya menaruh rasa simpati dan kasian terhadap keputusan saya.  Beberapa rekan kerja merendahkan langkah ini. Atasan saya yang selalu mempertanyakan tujuan saya.

Berangkat Mondok

berangkat pergi

by mamikos

Disinilah saya sadar, saya sangat kaya . Dihadirkannya keluarga dan sahabat yang luar biasa baik oleh Allah.

Bapak Ibu  banyak mendoakan saya. Mereka menguatkan saya dengan apapun yang terjadi nanti.

Keluarga besar selalu memberikan dukungan, bahkan  mereka memberikan sebagian rezeki sebagai uang saku.

Sahabat – sahabat saya, mereka  dengan sedikit kasian dan simpati memberikan pesan dan dukungannya. Disini saya banyak mendapat Baju Koko dan Sarung.

wahhhh, dapat bekal banyak nih. Doa, dukungan, bahkan hadiah. Manusia malang… hehehe

Kedengarannya aneh  dan lucu, bahkan lebay. Tapi inilah realitas yang saya alami.

    1. bagus romadhon 07/23/2019

    Add Your Comment

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.