Menginap di Rumah Sakit karena Usus Buntu

Sakit sudah menjadi kawan setia bagi semua manusia di muka bumi ini. Berbagai macam hal bisa menyebabkan manusia terkena penyakit entah makanan, cuaca, jatuh, kecelakaan dll.   Tidak sedikit Rumah Sakit sekarang selalu dipenuhi  dengan pasien, bahkan tidak sedikit pula yang terlantar akibat Rumah Sakit sudah kuwalahan menampung pasien.

Bisa dibilang Rumah Sakit menjadi rumah kedua bagiku pada masa kanak kanak. Sejak menginjak umur 4 tahun, hampir setahun sekali saya harus menjadi pasien rawat inap di rumah sakit. Typus, Asma, Usus Buntu, Demam Berdarah bahkan ditabrak motor sudah pernah aku lewati dengan berhasil alias sembuh.

Usus buntu, penyakit ini  mampir ditubuh saya ketika umur 10 tahun. Pengalaman ini masih membekas di ingatan saya , dimana ketika itu Ibu sangat khawatir dan menangis melihat kondisi saya . Pengalaman ini dapat menjadikan saya lebih memperhatikan dengan kesehatan, khususnya apa yang kita makan.

Kelas 5 SD, masa dimana kita sebagai anak – anak sangat menyukai jajan di sekolah. Entah itu tidak sehat , tidak higyenis sebagai anak kecil, selama itu enak dan menarik pasti bakalan dibeli. Disinilah  peluang berbagai penyakit menghampiri.

Daftar Isi

Gejala Penyakit Usus Buntu

sakit perut

picture by derneumann

Suatu saat saya merasakan nyeri dibagian perut kanan bawah. Namun , dengan polos saya belum sadar akan bahaya yang mengintai. Kegiatan dan aktivitas masih saya jalani seperti biasanya. Parahnya lagi saya tetap mengonsumsi makanan – makanan pinggir jalan yang belum tentu kebersihannya.

Tiba – tiba saya sering mual dan muntah dibarengi dengan menurunnya nafsu makan. Walau rasa nyeri di perut masih terasa, orang tua berpikir saya lagi demam. Beberapa butir obat yang Ibu beri entah dari mana menjadi pilihan terbaik saat itu. Tidak ada perkembangan yang siknifikan setelah 2 hari. Obat tersebut tidak mengurangi rasa nyeri ataupun menghentikan muntah.

Rasa nyeri perut dibagian kanan bawah semakin memburuk, apalagi ketika berjalan dan bergerak .Dengan sedikit membungkuk saya  mengurangi rasa sakit dan tangan selalu menggengam perut kanan bawah. Kedua tangan saya pun tidak bisa lepas dari bagian perut yang sakit ini. Melihat kondisi saya, orang tua memutuskan untuk membawa saya ke dokter.

Waktu yang sudah terlanjur larut malam, tidak memungkinkan untuk pergi ke dokter. Sedikit menahan rasa sakit , saya bisa mengurangi  kekhawatiran orang tua. Malam itu mata enggan beristirahat, berkali – kali saya mencoba untuk menutup mata  dan melelapkan diri. Namun tubuh yang sakit ini memaksa saya untuk terjaga dan menikmati keadaan.

Waktu terasa sangat lambat. Selintas tertidur, tiba tiba terbangun dengan sendirinya. Adzan shubuh terdengar sangat jelas, tubuh semakin lemas. Pukul 7 pagi, saya terbangun oleh suara Ibu, terlihat pancaran sinar matahari. Kupaksa berjalan sambil membungkuk menuju kamar mandi. Bak sudah dipenuhi dengan air hangat yang telah disiapkan Ibu, kubersihkan badan ini untuk berangkat ke dokter.

 Periksa Dokter

pemeriksaan dokter

by rawpixel

Diapit dengan Bapak yang membonceng sepeda motor dan Ibu yang dibelakang, kami bertolak menuju ke dokter. Sesampai ditempat, Alhamdulillah nomor antrian tidak panjang. Sambil menunggu , saya lihat di sekeliling nampak beberapa orang yang juga menunggu dengan wajah pucat. Tidak  lama nama saya dipanggil oleh dokter.

Berbagai pertanyaan yang diberikan oleh Dokter di jelaskan oleh Ibu dengan super lengkap. Saya mengikuti semua intruksi Dokter untuk proses pemeriksaan. Sedikit tersenyum, Dokter memberikan hasil pemeriksaan. Saya sedang menderita sakit usus buntu, untungnya penyakit ini belum terlalu parah.

gambar usus

by open clip art vector

Usus buntu atau dalam bahasa medis Apendisitis, merupakan suatu kondisi dimana sebuah kantong bagian dari usus besar yang terletak ujung bagian bawah perut kanan mengalami peradangan.

Penyebab Usus buntu belum diketahui secara pasti. Pada beberapa kasus usus buntu ini terjadi radang akibat infeksi dan bakteri. Bakteri terjadi akibat penumpukan makanan yang rendah serat dan sulit dicerna.

Dokter dengan cepat memberikan penanganan pada saya. Kami diberi surat rujukan ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan yang maksimal.

Rawat Inap ke Rumah Sakit

mendapat infus

by rawpixel

Kami langsung menuju Rumah Sakit dimana dirujuk. Rumah Sakit ini salah satu Rumah Sakit yang besar dan lengkap di kota saya. Di UGD saya langsung mendapatkan pelayanan dengan ditemani Ibu, sedangkan Bapak masih mengurus administrasi dan surat perlengkapan.

Jarum suntik di tusukkan oleh salah satu perawat guna memasang infus. Ibu sedang menanggapi semua pertanyaan dari petugas UGD guna mengambil langkah lebih lanjut. Untuk sementara waktu saya berada di UGD dan menunggu tersedianya ruang pasien. Setelah hampir 3 jam, akhirnya  saya dipindahkan di sebuah kamar. Kamar kelas 2 yang bagi saya cukup besar  untuk dua pasien. Kamar ini sudah dilengkapi kamar mandi yang bersih.

Hari pertama saya habiskan dengan tiduran seharian dan makan. Dalam sehari perawat mengontrol dan mencatat setiap perkembangan kondisi saya 3 kali. Pasien lain yang juga seruangan dengan saya adalah remaja laki – laki yang telah mengalami kecelakaan. Kondisinya tidak terlalu parah , hanya kaki retak. Sesekali kami saling bercakap untuk menghabiskan waktu bersama.

operasi pasien

by unsplash

Hari kedua, saya dibawa disebuah ruangan khusus entah ruangan apa untuk diperiksa kondisi lebih lanjut. Di ruangan tersebut saya disekelilingi oleh seorang Dokter dan beberapa perawat yang membantu. Mereka  menekan nekan perut kanan bagian bawah. Tak lama kemudian saya digiring lagi ke tempat yang tak jauh dari ruangan tersebut untuk pemeriksaan rontgen.

Para perawat kembali membawa saya ke ruangan rawat inap. Malam harinya saya mendapatkan sebuah suntikkan dari Dokter. Rutin 3 kali sehari saya juga meminum obat yang diberikan oleh perawat. Majalah Bobo menjadi teman keseharianku di ruangan rawat inap . Majalah hewan kartun yang di jual di depan Rumah Sakit ini dibelikan oleh nenek karena permintaanku.

Semua keluarga silih berganti menjenguk untuk menghibur saya. Mereka membawa banyak  makanan dan buah – buahan yang sebagian tidak boleh saya makan.

Hari – hari berikutnya tidak ada pemeriksaan dari dokter. Perawat yang selalu mengamati  dan mencatat perkembangan tiap harinya memberikan kabar ada perkembangan baik. Rasa nyeri pada perut saya pun juga sudah tidak terasa. Senang rasanya karena saya pasti tidak lama lagi berada di sini.

Memasuki hari kelima, saya digiring lagi ke sebuah ruangan pemeriksaan awal untuk diperiksa . Mereka kembali menekan nekan perut dan menegaskan apa yang saya rasakan ketika perut ini ditekan. Dengan yakin saya melontarkan jawaban bahwa perut sudah tidak sakit lagi. Mereka melanjutkan pemeriksaan lagi dengan beberapa alat .

ruangan pasien

by unsplash

Setelah lamanya menginap 7 hari di Rumah Sakit ,akhirnya saya kembali melakukan kegiatan seperti sedia kala. Obat dari Rumah sakit tetap rutin saya konsumsi.

Makanan memang bukan penyebab utama penyakit Usus Buntu. Namun salah satu yang menyebabkan usus buntu karena terjadi penumpukan makanan yang tidak bisa di cerna. Kita  tidak boleh menyepelekan makanan. Karena apa yang kita makan sangat menetukan kesehatan kita.

  • Add Your Comment

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.