Penjelasan dan Sintaks Model Pembelajaran Jigsaw

Salah satu model dalam pembelajaran yang harus dikuasai oleh seorang guru yakni model pembelajaran jigsaw. Sintaks pembelajaran jigsaw bisa menjadi pilihan tepat bagi pendidik untuk dapat diterapkan pada kegiatan pembelajaran agar model pembelajaran lebih variatif dan menarik.  Lantas bagaimana pengertian dan sintaks yang ada pada model pembelajaran jigsaw ?

Pengertian Model Pembelajaran Jigsaw

Jigsaw secara etimologi berasal dari Bahasa Inggris yang berarti gergaji ukir. Beberapa ahli juga menyebutnya dengan istilah Fuzzle yang mana bisa diartikan sebagai teka-teki atau potongan gambar. Pembelajaran jigsaw sendiri merupakan salah satu variasi dari model pembelajaran kooperatif.

Nah, pembelajaran ini sesuai dengan namanya, mengambil pola cara kerja sebuah gergaji atau jigsaw yakni siswa melakukan kegiatan pembelajaran dengan cara bekerja sama dengan siswa yang lain untuk mencapai tujuan bersama.

Model pembelajaran jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson serta teman-temannya yang berasal dari Universitas Texas serta pada masa yang selanjutnya diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawan.

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai pengertian pembelajaran jigsaw ini, Anda bisa merujuk pada pendapat beberapa ahli. Berikut ulasannya.

pengertian model pembelajran jigsaw1. Menurut Arends

“Siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada kelompok yang lain.”

2. Menurut Agus Suprijono

“Merupakan pembelajaran kooperatif dimana guru membagi kelas dalam kelompok-kelompok lebih kecil.”

3. Menurut Yuzar

“Dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, siswa belajar dengan kelompok kecil yang terdiri 4 sampai 6 orang, heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab secara mandiri.”

Dalam pembelajaran jigsaw dimulai dengan pembelajaran bab maupun pokok bahasan sehingga setiap anggota dari kelompok memegang materi dengan topik yang berbeda. Setiap siswa memegang materi yang sama kemudian dikumpulkan dalam satu kelompok baru yang disebut dengan kelompok ahli.

Masing-masing kelompok ahli akan bertanggung jawab pada sebuah pokok bahasan atau bab. Setelah kelompok ahli sudah selesai dalam mempelajari suatu pokok bahasan, maka masing-masingnya kembali ke kelompok asal untuk mengajarkan materi keahliannya pada teman-teman di dalam satu kelompok dengan cara saling berdiskusi.

Pada model pembelajaran ini, siswa akan mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk bisa mengemukakan pendapatnya. Serta mengolah informasi yang bisa meningkatkan keterampilan komunikasi.

Setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab atas keberhasilan dari kelompoknya. Selain itu, setiap anggota juga bertanggung jawab untuk ketuntasan bagian materi yang sudah dipelajari serta bisa menyampaikannya pada kelompok masing-masing.

Tipe Model Pembelajaran Jigsaw

jenis model pembelajaran jigsawModel ini terbagi atas dua tipe yang mana akan dijelaskan lebih lanjut pada poin-poin di bawah ini.

1. Model Jigsaw Tipe I

Pada model ini, siswa hanya belajar konsep tertentu yang menjadi spesialisasinya. Sementara untuk konsep yang lain, siswa akan mendapatkannya dari diskusi dengan teman dalam satu kelompoknya.

2. Model Jigsaw Tipe II

Model jigsaw yang kedua ini setiap siswa diharuskan untuk mempelajari keseluruhan konsep atau scan read sebelum ia belajar tentang spesialisasinya untuk menjadi ahli.

Sintaks Model Pembelajaran Jigsaw

langkah langkah model pembelajaran jigsawLangkah yang bisa ditempuh untuk melakukan pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

  1. Siswa membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 hingga 6 orang
  2. Setelah itu, setiap siswa di dalam kelompok diberikan sub topik yang berbeda
  3. Setiap kelompok membaca serta mendiskusikan sub topik masing-masing dan juga menetapkan anggota ahli yang akan bergabung pada kelompok ahli.
  4. Jika sudah, maka anggota ahli dari setiap kelompok akan berkumpul dan mengintegrasikan semua sub topik yang sudah dibagi sesuai dengan banyaknya kelompok.
  5. Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang diberi serta saling membantu untuk menguasai topik.
  6. Sesudah memahami materi, maka kelompok ahli menyebar serta kembali pada kelompok masing-masing. Lantas, menjelaskan pada rekan dalam kelompoknya.
  7. Setiap kelompok akan mempresentasikan hasil diskusi
  8. Guru memberikan tes individual di akhir pembelajaran mengenai materi yang sudah didiskusikan.
  9. Siswa akan mengerjakan tes individual maupun kelompok yang mencakup semua topik.

Supaya lebih mudah untuk dipahami, maka ada beberapa hal penting yang mesti dipahami oleh guru, yakni:

sintaks model pembelajaran jigsaw

  • Pembelajaran ini diawali dengan pengenalan topik yang mana guru menuliskan topik tersebut pada papan tulis dan bertanya pada siswa apa yang diketahui tentang topik ini. Hal ini bertujuan untuk mengaktifkan skemata atau struktur kognitif dari siswa.
  • Pada akhir diskusi, guru akan mengadakan kuis individual. Hasil nilai yang diperoleh setiap anggota kelompok dikumpulkan lalu dirata-rata dalam kelompok untuk menentukan predikat kelompok.

Kelebihan Model Pembelajaran Jigsaw

Jika dibandingkan dengan model pembelajaran tradisional, maka model pembelajaran jigsaw ini mempunyai beberapa kelebihan yang meliputi:

  1. Mempermudah pekerjaan seorang guru di dalam mengajar, disebabkan karena sudah terdapat beberapa kelompok ahli yang mana mempunyai tugas untuk menjelaskan materi kepada rekannya.
  2. Pemerataan penguasaan materi bisa dicapai dalam waktu yang singkat
  3. Materi pembelajaran jigsaw ini bisa melatih siswa supaya lebih aktif di dalam berpendapat serta berbicara.

Kelemahan Model Pembelajaran Jigsaw

Meskipun mempunyai beberapa kelebihan atau keunggulan, model pembelajaran ini juga masih terdapat beberapa kelemahan. Hal ini disampaikan oleh Roy Killen, beberapa diantaranya adalah:

  1. Prinsip utama dari pembelajaran jigsaw ini adalah peer teaching atau pembelajaran yang dilakukan oleh teman sendiri. Hal ini akan menjadi sebuah kendala tersendiri dikarenakan perbedaan persepsi di dalam memahami konsep yang bisa didiskusikan dengan siswa lainnya.
  2. Jika siswa tidak percaya diri, maka penyampaian materi pada teman tidak akan maksimal.
  3. Rekod siswa mengenai kepribadian, nilai, dan juga perhatian dari siswa sudah dimiliki oleh seorang guru. Sebab, akan butuh waktu lama untuk mengenali tipe siswa di dalam kelas.
  4. Membutuhkan waktu yang cukup serta persiapan secara matang untuk memulai pembelajaran dengan model ini.
  5. Membutuhkan waktu yang cukup serta persiapan yang matang sebelum model pembelajaran bisa berjalan dengan baik.
  6. Aplikasi metode model pembelajaran jigsaw di kelas yang besar (lebih dari 40 orang) akan sangat sulit.

3 Jenis Model Pembelajaran Jigsaw

Doolintle berpendapat bahwa ada tiga model dalam pembelajaran ini, diantaranya:

  1. Whithin Group Jigsaw

Pada model ini, masing-masing anggota kelompok akan bertanggung jawab untuk mempelajari satu bagian persoalan yang mesti dipecahkan kelompok, selanjutnya, masing-masing harus mengajarkan pada anggota lain di dalam satu kelompok.

  1. Expert Group Jigsaw

Pada model kedua ini, anggota kelompok mendapatkan bagian persoalan yang sama serta berkumpul dalam kelompok ahli untuk bisa bersama-sama dalam mempelajari serta memecahkan persoalan. Lantas, masing-masing kembali ke kelompok asal serta mengajarkan bagian yang sudah dipelajari pada kelompok ahli.

  1. Whole Group Jigsaw

Model yang terakhir adalah whole group jigsaw yang mana kelompok yang sudah terbentuk pertama kali akan menjadi kelompok ahli. Serta masing-masing mempelajari tentang persoalan yang beda dengan kelompok yang lainnya. Jika sudah, maka masing-masing kelompok akan mengajarkan bagian persoalannya pada kelompok lain melalui presentasi atau diskusi.

Faktor Keberhasilan Model Pembelajaran Jigsaw

Beberapa faktor yang menjadi kunci keberhasilan dalam penggunaan model pembelajaran jigsaw antara lain :

  1. Positive Independence

Setiap anggota kelompok wajib mempunyai ketergantungan dengan yang lain yang bisa menguntungkan maupun merugikan anggota kelompok lain.

  1. Individual Accountability

Setiap anggota kelompok diwajibkan untuk memiliki rasa tanggung jawab atas pencapaian proses belajar seluruh anggota termasuk dirinya sendiri.

  1. Face to Face Promotive Interaction

Setiap anggota kelompok melakukan interaksi tatap muka yang meliputi diskusi hingga elaborasi dari setiap materi pembahasan.

  1. Social Skills

Setiap anggota kelompok juga diwajibkan untuk mampu dalam bersosialisasi dengan anggota lain sehingga penguasaan materi pembahasan dapat diperoleh secara kolektif.

  1. Groups Processing and Reflections

Kelompok wajib melaksanakan evaluasi pembelajaran terhadap proses belajar guna meningkatkan kinerja kelompok.

Demikian ulasan tentang model pembelajaran jigsaw. Semoga bisa diambil manfaatnya.

  • Add Your Comment

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.