Pembelajaran Kontekstual : Penjelasan Lengkap dalam Pendidikan

Belakangan, pembelajaran kontekstual atau contextual teaching learning (CTL) sedang diperbincangkan dan diterapkan sejumlah sekolah. Teknik pembelajaran tersebut ditujukan untuk mendekatkan kembali anak-anak dengan lingkungan di sekitarnya. Lantas bagaimana metode dan strategi pembelajaran konstekstual ini ?

Penerapan pembelajaran konstektual dapat menjadikan siswa cepat beradaptasi saat terjun ke tengah mayarakat di kemudian hari. Bagi Anda yang belum terlalu familier dengan jenis pendekatan ini, mari kita simak pemaparannya di bawah ini!

Pengertian  Pembelajaran Kontekstual?

pembelajaran kontekstualSecara garis besar, pendekatan pembelajaran kontekstual mengasumsikan bahwa pikiran Anda secara alami akan menelusuri konteks dalam realita melalui pencarian hubungan masuk akal yang bermanfaat. Kala diterapkan dalam sistem pembelajaran, CTL memungkinkan para siswa membentuk sistem yang membantu mereka memahami makna yang ada di dalamnya.

(Depdiknas, 2002)

Pengertian pembelajaran kontekstual adalah metode pembelajaran yang membantu pendidik mengaitkan antara materi yang disampaikan dengan kondisi dunia nyata siswa serta mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Johnson (2008)

Pembelajaran kontekstual adalah suatu konsep pembelajaran yang bertujuan memotivasi para siswa dalam melihat makna dan materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka.

Dari beberapa definisi pembelajaran konstekstual di atas, maka ada tiga hal yang harus diperhatikan antara lain :

  • Pembelajaran konstekstual menekankan pada keaktifan siswa dalam menemukan materi Proses belajar diorientasikan pada pengalaman siswa secara langsung.
  • Memotivasi siswa untuk menemukan hubungan antara materi yang didapatkan dengan situasi kehidupan sehari-hari.
  • Mendorong para siswa untuk menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.

Penerapan pembelajaran kontekstual atau CTL kali pertama muncul di Amerika Serikat, tepatnya dari pandangan pakar pendidikan Dewey pada 1916. Menurutnya, pengembangan minat dan pengalaman siswa akan membantu mereka menanamkan nilai-nilai berfaedah dalam kehidupannya. Di sisi lain, CTL dimanfaatkan para guru untuk menghubungkan materi yang mereka ajarkan dengan kenyataan yang terjadi di sekitar anak-anak didiknya.

Karakteristik Pembelajaran Konstekstual

teknik pembelajjaran kontekstual

  1. Kerjasama dan saling menunjang
  2. Menyenangkan dan tidak membosankan
  3. Belajar dengan bergairah
  4. Pembelajaran yang terintegrasi
  5. Menggunakan berbagai sumber
  6. Siswa aktif dan kritis, serta Guru yang Kreatif
  7. Sharing dengan teman
  8. Laporan kepada orang tua tidak hanya raport saja, melainkan juga hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa, dll

Komponen Pembelajaran Kontekstual

komponen pembelajaran kontekstualBerdasarkan Departemen Pendidikan Nasional, setidaknya ada tujuh komponen yang terdapat pada teknik pembelajaran kontekstual, antara lain:

1. Constructivism

Tahap ini merupakan landasan berpikir atau filosofi yang mendorong siswa menciptakan pengetahuan atau wawasan dengan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dasar pembelajarannya sebisa mungkin harus melibatkan siswa alih-alih ‘menyuapi’ mereka.

Dalam konstruktivisme, para guru diharapkan memfasilitasi siswa dengan pengetahuan relevan dan bermakna bagi siswa, memberikan kesempatan untuk mengungkapkan gagasan, dan memotivasi anak-anak didiknya supaya mampu mengaplikasikan strategi belajar mereka sendiri. Jadi, siswa juga akan lebih mandiri berkat pendekatan pembelajaran kontekstual.

2. Inquiry

Agar para siswa tergerak untuk membangun ide hingga strategi pembelajaran sendiri, diperlukan faktor-faktor pendorong buat menggerakkan mereka. Dalam Contextual Teaching Learning, tahap ini dikenal sebagai inquiry.

Siswa akan diajak guru melakukan serangkaian aktivitas. Antara lain observasi, bertanya, mengajukan hipotesis atau asumsi, mengumpulkan data, hingga menarik kesimpulan. Pada tahap pembelajaran kontekstual ini, Anda sebagai pengajar harus mampu memupuk jiwa petualang dan rasa penasaran dari para siswa supaya mereka tak patah semangat saat menggali informasi sampai merangkumnya.

3. Questioning

karakteristik pembelajaran kontekstualSeperti kata peribahasa terkenal, Malu bertanya, sesat di jalan. Pada dasarnya, bertanya adalah langkah awal seseorang untuk mengungkap pengetahuan. Oleh karena itu, para guru dianjurkan untuk mengajak siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik.

Salah satu kegiatan formal yang bisa Anda terapkan di kelas adalah mengawali sebuah topik, lalu menguatkan sebelum akhirnya menyimpulkan konsep. Jika diterapkan dengan tepat, tahap pembelajaran kontekstual ini bakal mendorong para siswa buat bertanya. Jadi kegiatan belajar mengajar pun akan lebih hidup dan menyenangkan.

4. Learning community

Tahap ini mungkin tak asing bagi para siswa. Salah satu bentuk learning community di lingkungan sekolah adalah kerja kelompok. Meski sudah umum, aktivitas tersebut harus dipandu dengan baik oleh guru dan dipantau untuk mengetahui perkembangannya.

Dalam pendekatan pembelajaran kontekstual, learning community memberikan berbagai pengajaran berfaedah bagi siswa. Antara lain kerja sama dengan teman sebaya, memecahkan masalah, memberi solusi, dan memberikan kepercayaan. Team work yang baik akan membantu mereka bekerja dengan orang-orang baru di dunia kerja nanti.

5. Modelling

Pernahkah Anda mendengar konsep Amati, Tiru, Modifikasi (ATM)? Ya, dalam pembelajaran kontekstual pun modelling atau meniru diperbolehkan untuk mencontohkan sesuatu pada siswa. Beberapa hal yang dapat Anda lakukan mencakup pelafalan bunyi dan menelusuri kunci pada sebuah bacaan.

Mulanya, para siswa akan mengikuti apa yang gurunya lakukan. Kemudian, bimbing mereka menemukan caranya sendiri. Sebagai contoh, saat mengenalkan puisi, bacakan salah satu karya dengan gaya tertentu. Minta mereka buat mempelajarinya, lalu panggil untuk mendengar cara mereka membawakan puisi tersebut.

6. Reflection

Sesuai namanya, refleksi akan mengajari para siswa untuk mengevaluasi tindakan-tindakan yang sudah mereka ambil dalam kegiatan belajar mengajar. Tahap pembelajaran kontekstual ini pun dapat berupa respons terhadap kejadian, kegiatan, maupun pengetahuan yang mereka terima.

Misalnya, setelah mempelajari proses kembang biak vegetatif, siswa akan berpikir bahwa menanam biji pohon jambu bukanlah teknik yang sesuai untuk membudidayakannya. Justru cangkoklah yang membuat pohon tumbuh subur dan berbuah lebat. Anda sebagai guru juga harus menyisakan waktu untuk siswa supaya mereka bisa melakukan refleksi.

7. Authentic assessment

Tahap ketujuh dalam pendekatan pembelajaran kontekstual adalah penilaian atau authentic assessment. Guru biasanya akan mengumpulkan sejumlah data yang bisa memberi gambaran perkembangan para siswa, termasuk kemajuan pembelajaran.

Penilaian yang Anda berikan pun harus benar-benar objektif. Dalam hal ini, ujian tertulis bukanlah satu-satunya patokan yang bisa Anda andalkan. Kegiatan berkelompok, keterlibatan selama siswa berada di kelas, hingga tingkah laku mereka di luar bisa mempengaruhi penilaian. Dengan begitu, para siswa pun akan menerima penilaian secara menyeluruh.

Strategi dalam Pembelajaran Kontekstual

strategi pembelajaran kontekstualSetelah mengetahui ketujuh tahap pembelajaran kontekstual, sekarang Anda bisa lanjutkan dengan mengaplikasikan strateginya, antara lain:

  • Sajikan masalah kepada sesuai. Tentunya contoh kasus tersebut sudah Anda sesuaikan dengan kemampuan siswa dan mata pelajarannya. Strategi ini membantu mereka berpikir lebih kritis dan mencari solusi lewat proses pembelajaran untuk memecahkan masalah;
  • Konteks masalah dipengaruhi juga oleh lokasinya. Maka dari itu, Anda juga perlu memastikan contoh kasus pada pembelajaran kontekstual punya tempat yang akurat. Misalnya rumah siswa, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Jadi mereka juga dapat menyesuaikan penyelesaian yang akan diberikan;
  • Membimbing siswa menjadi self-regulated learner atau pelajar mandiri. Seperti yang disebutkan sebelumnya, teknik pembelajaran ini ditujukan agar siswa tak terlalu tergantung pada guru. Cara penerapan yang tepat dan efektif kelak mengembangkan siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat yang mampu mencari, menganalisis, dan memakai berbagai sumber dalam pendekatan pembelajaran kontekstual;
  • Manfaatkan ragam budaya di lingkungan siswa. Kekayaan budaya dan adat istiadat di Indonesia sebenarnya bisa Anda gunakan untuk memotivasi siswa untuk mempelajari sesuatu yang rumit. Sebut saja menghargai kepercayaan dan pendapat orang lain hingga membangun keterampilan interpersonal;
  • Mengenalkan konsep team work. Strategi selanjutnya dalam pembelajaran kontekstual adalah membuat siswa terbiasa bekerja dengan rekan sejawatnya (independent learning group). Cara ini akan berjalan efektif saat Anda berada dalam tahap learning community. Siswa yang mampu bekerja dalam tim tak akan segan berbagi pengetahuan hingga mempercayai teman melakukan sesuatu sesuai kemampuannya;
  • Pupuk kepercayaan diri siswa. Dalam authentic assessment, Anda bisa menjalankan tes yang melibatkan siswa berbicara atau melakukan aktivitas lain selain menulis. Selain menilai sejauh mana keterampilan mereka berkembang, cara ini secara tak langsung akan membangun rasa percaya diri mereka.

Demikian pemaparan seputar pembelajaran kontekstual beserta tahap-tahap dan strateginya. Semoga dapat bermanfaat untuk Anda! Selain model kontekstual, ada baiknya anda juga mengetahui macam-macam model pembelajaran dan perangkat pembelajaran.

  • Add Your Comment

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.