Tembang Pocung : Penjelasan Lengkap dengan Berbagai Contoh

Tembang pocung merupakan salah satu dari 11 Tembang Macapat (puisi jawa) yang sangat sederhana sekali. Pocung biasanya disebut juga dengan Pucung. Tembang Pocung memiliki beberapa tema dan artinya, misalnya tembang pocung tema pendidikan. Selain itu ditambah lagi dengan watak tembang pocung yang membuat tembang pocung bermakna sangat luhur.

Tembang Macapat secara etimologi dapat diartikan dengan Maca Papat-Papat (Jawa) atau dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan dengan membaca empat-empat. Tembang macapat disajikan dalam beberapa jenis tembang, dimana masing-masing tembang tersebut dibedakan dengan aturan-aturan yang membentuk guru lagu dan guru wilangan.

Tembang Macapat Pocung

Pocung atau pucung merupakan tembang macapat yang biasanya digunakan untuk mengingat pada kematian, karena dekat dengan kata “Pocong” yang mana akan dibungkus kain kafan atau dipocong sebelum dikebumikan. Tembang pucung juga memiliki arti woh-wohan atau dalam bahasa Indonesia berarti buah-buahan yang memberi kesegaran.

Watak Tembang Pocung

tembang macapat pocung

Sumber : synaoo.com

Watak merupakan sifat lirik-lirik yang menyertai setiap tembang macapat, kadang bisa sedih, bisa gembira, senang dan sebagainya.

Ucapan cung dalam kata pocung cenderung mengarah pada hal-hal yang bersifat lucu, yang dapat menimbulkan kesegaran, misal kucung dan kacung. Tembang pucung ini sering digunakan untuk menceritakan lelucon dan berbagai nasehat.

Sehingga tembang pucung ini memiliki watak jenaka, berisi tebak-tebakan, dan hal-hal yang lucu lainnya dalam suasana santai.

Aturan Tembang Pocung

aturan tembang pocung

Sumber : dewisundari.com

Dalam membuat tembang pocung atau pucung tidak boleh asal buat, karena tembang pocung memiliki aturan.

1.Guru Gatra : Jumlah larik/baris (gatra) setiap satu bait (padha)

Guru gatra      = 4

Artinya tembang pucung memiliki 4 larik kalimat.

Jumlah baris/larik pada tiap tembang macapat tidak sama.

2. Guru Lagu : Huruf vokal terakhir “a,i,u,e, atau o” pada setiap akhir larik.

Guru Lagu       = u, a, i, a

Akhir suku kata dari setiap kalimat atau larik harus bervokal u, a, i, a.

3. Guru Wilangan: Jumlah suku kata pada setiap baris.

Guru Wilangan: 12, 6, 8, 12

Artinya tiap  kalimat atau larik harus memiliki jumlah suku kata seperti di atas.

Jadi, larik pertama berjumlah 12 suku kata, larik kedua berjumlah 6 suku kata, larik ketiga berjumlah 8 suku kata dan larik keempat terdapat 12 suku kata.

Contoh Tembang Macapat Pocung

Tembang Pucung Tema Pendidikan

pendidikan menuntut ilmu

Sumber : hipwee.com

Ngelmu iku, kalakone kanthi laku….

Lekase lawan kas,,,

Tegese kas nyantosani….

Setya budya pangekese dur angkara…

Ilmu pengetahuan itu hanya diperoleh dengan perbuatan dan belajar sungguh-sungguh,

Dimulai dengan kemauan, ketekunan dan keuletan,,,

Pantang menyerah dan mampu mengatasi tantangan hidup,,

Serta menahan nafsu angkara murka,,

Dadi bocah kudu sregep lan sinau…

Ben ora rekasa…

Sinaune ditenani..

Yen wis sukses aja lali mring wong tuwa…

Jadilah anak yang rajin dan tekun belajar ,,,

Agar hidup tidak kesusahan,,,

Mencari ilmu dengan sunguh-sungguh,,,

Jika telah meraih kesuksesan janganlah lupa akan orang tuamu,,,

pendidikan menuntut ilmu

Sumber : kabarmakkah.com

Sapa iku, ora seneng ngudi ilmu

Uripe rekasa

Senenge kepati-pati

Ora sugih ananging ora rumangsa

Siapa di dunia ini yang tidak suka mencari ilmu.

Hidupnya akan kesusahan.

Kegembiraan tidak akan lama.

Tidak sukses serta tidak bahagia.

Nora weruh rosing rasa kang rinuruh…

Lumeketing angga…

Anggere padha marsudi…

Kana kene kaanane nora beda…

Tidak mendalami hakikat ilmu yang telah dicari.

Padahal ilmu sejati telah berada di dalam jati diri.

Asal selalu mau berusaha.

Di sana maupun di sini ilmunya tidak berbeda.

Uger lugu den ta mrih pralebdeng kalbu…

Yen Kabul kabuki..

Ing drajat kajating urip..

Kaya kang wus winahya sekar srinata..

Asal tidak banyak bertingkah untuk mengumbar nafsu,

Supaya ilmu dapat merasuk ke dalam sanubari.

Bila berhasil, terbukalah derajat kemuliaan hidup yang sejati.

Seperti yang telah tersirat didalam tembang sinom (di atas).

menuntut ilmu

Sumber : komunitas.bukalapak.com

Basa ngelmu mupakate lan panemune…

Pasahe lan tapa…

Yen satriya tanah Jawi…

Kuna-kuna kang ginilut tripakara…

Yang namanya ilmu, hakikatnya dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita.

Dapat digapai dengan usaha yang gigih dan tekun.

Bagi satria dari tanah Jawa.

Dahulu yang menjadi pegangan leluhur adalah tiga perkara, yakni ;

Lila lamun kelangan nora gegetun…

Trima yen ketaman…

Sakserik sameng dumadi…

Tri legawa nalangsa srah ing Bathara…

 Pertama yaitu ikhlas bila harus kehilangan dan tanpa menyesali,,,

Kedua, adalah sabar jika hatinya disakiti oleh sesama.

Ketiga, merasa lapang dada sambil berserah diri pada Tuhan.

Tembang Pucung Nasehat

kehidupan masyarakat jawa

Sumber : atmago.com

Shalat iku kewajiban ingkang laku…

Lekase kat fajar…

Ibadah kang pancen wajib…

Shalat iku cagakke saka agama…

Shalat merupakan sebuah kewajiban yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Dimulai dari waktu terbit matahari.

Ibadah merupakan sebuah kewajiban.

Karena sholat itu adalah tiangnya agama.

Angkara gung neng angga anggung gumulung…

Gegolonganira…

Triloka lekeri kongsi,,

Yen den umbar ambabar dadi rubeda…

Nafsu angkara yang besar di dalam tubuh kuat menggelora.

Menyatu di dalam diri sendiri.

Menjangkau hingga tiga jaman.

Jika dibiarkan akan berkembang menjadi bahaya besar.

masyarakat jawa sederhana

Sumber : bagi-in.com

Beda lamun kang wus sengsem reh ngasamun,,,

Semune ngaksama,,

Sasamane bangsa sisip,,,

Sarwa sareh saking mardi martatama…

Tetapi berbeda dengan orang yang sudah menjiwai,,

Berperilaku dan watak suka memaafkan,,

Antar sesama manusia yang penuh salah,,

Selalu sabar dan berusaha menyejukkan suasana.

Yeku patut tinulat tulat tinurut..

Sapituduhira,,

Aja kaya jaman mangkin ,,,

Keh pra mudha mundhi diri rapal makna,,

Yaitulah yang pantas untuk diteladani, contoh yang patut diikuti,,

Seperti semua nasehatku..

Janganlah seperti zaman yang akan datang nanti..

Akan banyak anak muda yang membanggakan diri dengan hafalan surat

Bathara gung inguger graning jajantung..

Jenek Hyang wisesa…

Sana pasenedan suci…

Nora kaya si mudha mudhar angkara…

Tuhan Yang Maha Agung, diresapi dalam setiap hela nafas…

Hidup menyatu dengan Yang Maha Kuasa..

Teguh mensucikan diri…

Tidak seperti yang muda, yang selalu mengumbar nafsu angkara

Nora uwus kareme anguwus uwus…

Uwose tan ana…

Mung janjine muring muring…

Kaya buta buteng betah anganiaya…

Tidak henti-hentinya gemar mencaci maki sesama.

Tanpa ada isi dan tujuan.

Pekerjaannya hanya marah-marah

Seperti layaknya raksasa yang bodoh, pemarah dan suka menganiaya sesama.

masyarakat jawa sederhana

Sumber : dakwatuna.com

Sakeh luput Ing angga tansah linimput…

Linimpet ing sabda…

Narka tan ana udani…

Lumuh ala ardane ginawa gada…

Semua kesalahan yang dilakukan dalam diri selalu ditutupi…

Dibalut dengan sebuah kata-kata yang indah…

Namun dia mengira tak ada yang mengetahuinya…

Berucap tidak berbuat jahat, namun tabiat buruknya membawa kehancuran

Durung punjul ing kawruh kaselak jujul…

Kaseselan hawa…

Cupet kapepetan pamrih…

Tangeh nedya anggambuh mring Hyang Wisesa…

Belum cakap ilmu tinggi, sudah buru-buru ingin dianggap pintar.

Terselip hawa nafsu yang selalu merasa kurang.

Yang tertutup oleh pamrih.

Maka mustahil untuk manunggal pada Yang Maha Kuasa

Filosofi Tembang Pucung

menuntut ilmu

Sumber : bagi-in.com

Pocung berasal dari kata “pocong”, dalam bahasa jawa pocong artinya sudah dibungkus. Menggambarkan kematian manusia, mulai dari dimandikan, dibungkus kain kafan kemudian dishalati dan siap untuk dikuburkan.

Bukan hanya sekedar mengingat kematian seseorang, banyak sekali petuah yang tersirat dan tersurat pada tembang pocung ini yaitu dari sisi kehidupan yang lain. Tembang macapat pucung juga banyak digunakan untuk memberi nasehat yang berisi berbagai ajaran untuk manusia agar selalu mampu membawa diri agar dapat mengarungi kehidupan secara harmonis lahir dan batin.

Ketahui juga semua penjelasan mengenai Tembang Macapat dan tembang kinanthi secara lengkap.

  • Add Your Comment

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.