Kisah DiBalik Wayang Semar ( Sejarah , Sifat, Filosofi)

Wayang semar telah populer di kalangan masyarakat Indonesia khususnya Jawa dengan karakternya yang lucu dan pereda ketegangan penonton pada pementasan wayang. Namun tidak banyak orang tahu, bagaimana sebenarnya sejarah tokoh semar. Kami akan membagikan ulasan semua tentang wayang semar dari sejarah, watak dan sifat semar, kesaktian hingga filosofi tokoh semar.

Jika kita pahami semua tentang tokoh semar, ada banyak makna dan pesan yang positif yang dapat kita petik.

Wayang Semar

Tokoh Semar

Tokoh Semar selalu hadir di setiap cerita pewayangan, apapun judul dan episodenya. Dia selalu ada untuk menghibur. Tokoh semar digambarkan memiliki tubuh gemuk dan tak jelas laki-laki atau perempuan.

Di kalangan masyarakat Jawa, tokoh wayang Semar selain sebagai fakta historis juga menggambarkan makna simbolis dan mitologis tentang ke Esaan. Hal ini merupakan simbol dari pengejawantahan ekspresi, pengertian, dan persepsi tentang Ketuhanan.

Menurut sejarawan Sobirin, dulu Sang Hyang Wenang menciptakan Han-Tigo berupa telur. Cangkangnya menjadi Togog, dan putihnya menjadi Semar sementara kuningnya menjadi Batara Guru.

Sejarah Wayang Semar

sifat wayang semarSejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana menyatakan bahwa tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam sebuah karya sastra pada zaman Kerajaan Majapahit yang berjudul Sudamala. Sudamala sendiri selain dalam sebuah bentuk kakawin, juga dipahat sebagai sebuah relief dalam Candi Sukug yang berangka 1439 Masehi.

Sastra Sudamala mengisahkan semar sebagai seorang abdi atau hamba dari tokoh utama cerita, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Dalam kisah Sahadewa, tokoh Semar bukan hanya sebagai pengikut semata, melainkan juga sebagai penghibur dalam mencairkan suasana yang tegang.

Banyak sekali riwayat yang mengisahkan asal usul Semar. Namun pada umumnya menjelaskan bahwa Semar adalah jelmaan seorang Dewa.

Di dalam naskah Serat Kanda menceritakan penguasa kahyangan adalah Sang Hyang Nurrasa dan memiliki dua putra yang bernama Sanghyang Tunggal dan Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Nurrasa kemudian menurunkan tahta kahyangan pada Sang Hyang Wenang karena lebih memiliki wajah yang rupawan.

Setelah Sang Hyang Wenang menguasa kahyangan, Ia mewariskan tahta pada putranya yang bernama Batara Guru. Pada akhirnya Sang Hyang Tunggal menjadi pengasuh para ksatria keturunan Batara Guru dengan nama Semar.

Wayang Semar di Nusantara

Pada zaman kerajaan-kerajaan Islam mulai berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun mulai digunakan sebagai media dakwah. Salah satunya adalah kisah Mahabarata yang mana kisah tersebut sudah populer di kalangan masyarakat Jawa.

Salah satu Ulama yang memanfaatkan wayang sebagai media dakwah adalah Sunan Kalijaga. Di dalam dakwahnya, Semar selalu dihadirkan, bahkan lebih dominan dibandingkan dengan kisah Sudamala.

Kemudian, di era selanjutnya kepopuleran Semar semakin meningkat. Para Pujangga Jawa mulai mengkisahkan Semar bukan sebagai rakyat jelata saja, namun juga sebagai jelmaan Batara Ismaya yang merupakan kakak dari Batara Guru alias rajanya para dewa.

Umumnya, masyarakat Jawa mengenal Semar sebagai putra dari Sang Hyang Wisesa yang mana memiliki anugerah Mustika Manik Astagina dan delapan daya. Delapan daya itu antara lain tidak pernah mengantuk, tidak pernah lapar, tak pernah jatuh cinta, tak pernah sedih, tak pernah capek, tak pernah sakit, tak pernah kepanasan, dan tak tak pernah kedinginan.

Sifat, Watak, dan Karakter Wayang Semar

karakter semarTokoh Wayang Semar digambarkan memiliki karakter fisik yang lucu, bahkan bisa dibilang cukup aneh. Karena memiliki karakter fisik yang cukup unik, hal inilah yang dijadikan simbol dari kehidupan ini oleh Masyarakat Jawa.

Namun dalam cerita pewayangan, tokoh Semar ini mendapatkan peran yang terhormat dalam karakternya. Ia merupakan seorang penasihat sekaligus pengasuh para ksatria. Watak tokoh semar dalam cerita pewayangan yaitu sederhana, jujur, tulus, berpengetahuan, cerdas, cerdik, juga memiliki mata batin yang bergitu tajam.

Semar memiliki wajah yang selalu senyum, riang namun mata yang sembab. Penggambaran ini dapat dimaknai sebagai simbol suka dan duka. Raut wajahnya yang sudah tua namun potongan rambutnya bergaya kuncung yang lebih cenderung ke anak kecil. Hal ini digunakan sebagai simbol tua dan muda.

Semar berjenis kelamin laki-laki, namun disisi lain ia juga memiliki payudara layaknya seorang perempuan. Hal ini juga menjadi simbol sebagai pria dan wanita. Selain itu semar merupakan pernjelmaan dari Dewa namun hidup sebagai rakyat jelata, hal ini dimaknai sebagai simbol atasan dan bawahan.

Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, dimana ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:

  • tidak pernah lapar
  • tidak pernah mengantuk
  • tidak pernah jatuh cinta
  • tidak pernah bersedih
  • tidak pernah merasa capek
  • tidak pernah menderita sakit
  • tidak pernah kepanasan
  • tidak pernah kedinginan

Keistimewaan Semar

keistimewaan semarSemar merupakan salah seorang tokoh wayang ciptaan dari pujangga lokal. Meskipun statusnya yang hanya sebagai abdi atau hamba, namun budi pekerti dan keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata.

Dalam perang Bharatayudha pada versi asli, penasehat dari pihak Pandawa yaitu seorang Krisna seorang. Namun dalam kisah pewayangan, jumlahnya menjadi dua dan yang satunya adalah semar.

Pada umumnya, dalam pementasan wayang yang mengisahkan tentang Ramayana, pada dalang juga menghadirkan Semar sebagai seorang pengasuh keluarga Sri Rama atau Sugriwa. Sehingga tokoh wayang Semar selalu hadir dalam setiap acara pementasan wayang, tidak peduli dengan judul dan tema yang sedang diceritakan.

Dalam kisah wayang, Semar ditampilkan dengan peran seorang pengasuh dari golongan ksatria, sedangkan tokoh Togog berperan sebagai pengasuh para Raksasa. Hal ini dapat disimpulkan bahwa anak asuh dari Semar selalu bisa mengalahkan anak asuh dari Togog.

Semua ini sebenarnya hanya merupakan sebuah simbol belaka. Semar menjadi gambaran dari perpaduan antara rakyat kecil dengan dewa kahyangan.

Pasangan Punakawan

gambar punakawanPunakawan sudah pasti muncul dalam setiap kisah pewayangan dari Jawa Tengah. Semar selalu hadir ditemani dengan anak-anaknya yang bernama Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun tahukah kalian , bahwa sesungguhnya Gareng, Petruk dan Bagong bukanlah anak kandung Semar.

Gareng merupakan putra dari seorang pendeta yang  mengalami kutukan dan telah dibebaskan oleh Semar. Sementara Petruk merupakan putra dari seorang Raja bangsa Gandharwa. Dan Bagong tercipta dari bayangan Semar sendiri akibat sabda sakti dari Resi Manumasa.

Pewayangan Sunda mengisahkan urutan anak Semar adalah Cepot, Dawala dan Gareng. Sementara dalam kisah pewayangan Jawa Timur, Semar hanya didampingi oleh satu orang anak saja yang bernama Bagong, yang juga memiliki seorang anak bernama Besut.

Kesaktian Wayang Semar

kesaktian semarSebagai penjelmaan dari dewa, Semar dikenal juga sangat arif dan bijaksana. Bisa bersosial dengan siapa saja, baik dengan kalangan atas maupun kalangan bawah. Selain itu juga tanggap terhadap setiap perubahan jaman.

Namun jika menemukan ketidakadilan dan tindakan sewenang-wenang, maka Semar akan dengan tegas melakukan tindakan preventif, persuasif dan represif. Bisa dikatakan kalau Semar ini rela melakukan apa saja demi amanat yang diterimanya dari Sang Maha Kuasa.

Walau Semar hanya sebagai rakyat biasa dan menjadi Punakawan diantara para ksatria dan raja, tapi Semar memiliki kesaktian yang melebihi Batara Guru, rajanya para dewa. Semar selalu bisa menghadapi kesaktian Batara Guru yang selalu mengganggu Pandawa Lima saat dalam asuhan Semar.

Kesaktian semar yang paling ampuh dan unik dari Semar, yaitu “Kentut”. Kentut berasal dari dalam diri Semar sendiri, dimana senjata ini bersifat dari pribadi Semar. Senjata ini tidak digunakan untuk membunuh, namun untuk menyadarkan.

Suatu kisah, Semar menggunakan senjata “Kentut” saat melawan resi yang terkalahkan oleh Pandawa Lima. Dimana pertarungan ini berakhir dengan tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Pada akhirnya semuanya sadar kembali dalam perwujudan semula.

Semar sendiri mengeluarkan senjata “kentut” ini ketika benar-benar di dalam situasi mendesak dan tidak bisa mengatasai masalah dengan senjata lain.

Filosofi Wayang Semar

filosofi wayang semarSetiap pementasan pewayangan, Semar selalu melontarkan kata-kata bijaknya yang sifatnya lebih ke umum. Sehingga kata-kata bijak Semar dapat diterima oleh siapapun dan kapanpun.

Berikut ini adalah beberapa kata bijak atau filosofi Semar.

Urip iku Urup

Filosofi semar ini memiliki arti dalam bahasa Indonesia adalah Hidup itu Menghidupi. Hidup manusia itu harus bisa memberikan manfaat pada semua orang di sekitar kita. Di sinilah arti mengapa baiknya hidup itu menghidupi. Agar hidup kita lebih berarti, maka kita harus bermanfaat bagi setiap orang di sekitar kita.

Sura Dira Jaya Jayaningrat, Leburing Dening Pangastuti

Untuk Filosofi Semar yang ini berarti semua sifat picik, keras hati, dan angkara murka di dalam diri kita hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijaksana, sabar, dan lembut hati. DiIbaratkan api tidak bisa dipadamkan dengan api, perlu air untuk memadamkannya. Begitu juga dengan sifat buruk kita, harus kita redam dengan sifat baik kita, yaitu dengan kebijaksanaan, rendah hati, dan sabar.

Datan Sering Lamun Ketaman, Datang Susah Lamun Kelangan

Kata bijak Semar yang satu ini memiliki makna, bahwa jangan terlalu bersedih saat mengalami musibah yang menimpa kita, juga jangan sedih jika kita sedang kehilangan sesuatu. Karena semua yang ada di dunia ini akan kembali kepada-Nya. Inilah hakikat hidup yang sebenarnya.

Ada juga Filosofi Semar yang dilontarkan setiap kali mengawali dialog : “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…” .Yang memiliki makna diam, bergerak atau berusaha, makan, walaupun sedikit, abadi.

Maksudnya dari kata-kata bijak Semar itu kurang lebih yaitu daripada diam (mbergegeg) lebih baik berusaha untuk lepas (ugeg-ugeg) dan mencari makan (hmel-hmel) walaupun hasilnya sedikit (sak ndulit) tapi akan terasa abadi (langgeng).

Beberapa filosofi semar di atas sering dilontarkan dalam pementasan wayang, biasanya saat akhir dan penutupan cerita dan digunakan sebagai makna kehidupan dan pesan moral.

Jangan lewatkan beberapa kisah wayang dengan bahasa jawa yang menarik dan penuh makna.

  • Add Your Comment

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.